Sampah Plastik Indonesia ‘Berlayar’ Jauh ke Seychelles

oleh Envira ID

Share via
  • Sampah mengapung di laut selama enam  bulan, bahkan ada yang lebih dari dua tahun, sebelum mendarat di pesisir Seychelles.  Sampah itu didorong hembusan angin,  puncak kedatanganya pada akhir musim barat laut, pada bulan Maret dan April.

 envira.id, Jakarta – Para peneliti dari University of Oxford mengungkap sampah plastik yang menumpuk di pantai-pantai Seychelles merupakan kiriman dari sejumlah negara, salah satunya Indonesia. Hasil penelitian itu dipublikasikan di Marine Pollution Bulletin edisi Februari 2023.

Berjarak sekitar 6500 kilo meter dari Indonesia, Seychelles  adalah salah satu negara terkecil di dunia yang terdiri dari  sekitar 115 pulau.  Seychelles terletak di sekitar 1600 kilo meter di sisi timur Benua Afrika

Para peneliti menggunakan model resolusi tinggi  dalam riset yang menggunakan data sejak 2007 sampai 2022.  Model tersebut mensimulasikan pergerakan sampah plastik di lautan di penjuru dunia dengan menggunakan data  tentang arus laut, ombak, dan angin , serta sampah plastik yang memasuki lautan dari pesisir, sungai, dan perikanan.

Penelitian dilakukan untuk memprediksi akumulasi sampah plastik di 27 lokasi di Seychelles dan sejumlah pulau Samudra Hindia bagian barat. Temuan penting dari riset itu cukup “mengejutkan’: Indonesia adalah sumber utama sampah plastik berbasis darat yang ditemukan di pantai-pantai di Seychelles.

Sampah kiriman dari Indonesia itu antara lain botol, sandal,  dan barang-barang rumah tangga berukuran kecil.  Bukan hanya Indonesia. Malaysia, Thailand, dan Cina juga “mengekspor” sampahnya ke  negara yang terkenal dengan objek wisatanya itu.

Sampah-sampah mendarat di pesisir Seychelles setelah mengapung di laut selama 6 bulan, bahkan ada yang lebih dari dua tahun. Sampah itu di dorong hembusan angin, puncak kedatanganya pada akhir musim barat laut, pada bulan Maret dan April.

Akumulasi sampah plastik juga diperkuat peristiwa El Nino–Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD), juga dikenal sebagai Indian Niño.

Penelitian yang juga melibatkan para peneliti dari University of Montpellier; Institut de Recherche pour le D’eveloppement, MARBEC; dan Institut Sains dan Teknologi Okinawa, ini  adalah studi pertama yang menghasilkan estimasi kuantitatif sumber sampah plastik di Seychelles dan pulau-pulau terpencil lain di Samudera Hindia bagian barat.

Disebutkan juga bahwa polusi plastik semacam ini bisa menjadi ancaman lingkungan yang signifikan.  Baik itu untuk ekosistem laut maupun masyarakat yang bergantung pada laut untuk makanan, pariwisata, dan kegiatan ekonomi lainnya.

Hasil penelitian sebelumnya memperkirakan lebih dari 500 ton sampah terkumpul di Aldabra Atoll di Seychelles, Situs Warisan Dunia UNESCO yang bernilai ekologis dengan nol populasi permanen.

Penulis utama penelitian saat ini, Noam Vogt-Vincent (Departemen Ilmu Bumi, Universitas Oxford), mengatakan bahwa hasil penelitian menggambarkan besarnya tantangan polusi plastik yang dihadapi negara berkembang yang berupa pulau kecil.

Secara sederhana, temuan yang dirilis di jurnal science Eureukalert! 18 Januari 2023, ini pun  bisa menyadarkan masyarakat di kawasan pantai. Misalnya melakukan upaya mitigasi.  Seperti pembersihan pantai setelah puncak akumulasi sampah (Mei hingga Juni) untuk mengurangi kemungkinan sampah plastik terurai menjadi fragmen yang lebih kecil dan berdampak pada ekosistem. ()

Penulis : Susandijani.

 

 

 

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?