IPRO Ajak Media Ubah Persepsi Masyarakat Tentang Sampah

oleh Eni Saeni

Selain Zul Martini Indrawati, narasumber lain dalam diskusi tersebut antara lain Ketua DPD Bali-Nusra Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia (APSI) Putu Ivan dan Kepala Bidang Pengelolaan Sampah Limbah B3 dan PPKLH Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Bali, I Made Dwi Arbani, dan  Direktur Bali Waste Cycle (BWC), Olivia Anastasia Padang.

Martini menuturkan, melalui media massa, para jurnalis bisa mengubah persepsi masyarakat tentang sampah. Menurut dia, sampah bisa  bermanfaat dan bernilai ekonomi jika dikelola dengan baik.

“Dipilah  dari sumber, lalu dikelola di bank sampah, TPS3R,  TPST  dan  pendaur ulang. Baru residunya diproses  di TPA,” katanya.

Dia  menekankan,  media massa punya peran strategis dalam mengedukasi  masyarakat. Karenanya para anggota J2PS harus memanfaatkan media secara maksimal. Pengetahuan pilah sampah, manfaat sampah, dan dampak serta tantangan di isu persampahan

“Saya berharap teman-teman jurnalis dapat menulis berita tentang isu persampahan yang memberi dampak lebih besar bagi lingkungan, ekonomi, dan sosial.  Edukasi juga harus sejalan dengan implementasi tata kelola sampah, baik itu yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah maupun sektor swasta,” ujarnya.

Ia menjelaskan, IPRO  hadir antara lain untuk meningkatkan pengumpulan dan pendauran ulang ulang kemasan pasca-konsumsi  Organisasi non-profit ini juga bisa menjembatani kolaborasi multipihak guna  mengimplemantasikan tanggung jawab produsen dalam mengelola sampah.

“Kami berusaha  terus menggaungkan kepada industri untuk bekerja sama dalam mengelola sampah yang dihasilkan. Tetapi jika mereka ingin melakukan sendiri-sendiri, ya silakan karena tujuannya sama yakni membangun tata kelola sampah lebih baik,” kata Martini.

Ketua J2PS, Agustinus Apollonaris, menyatakan, beberapa bulan terakhir ini, media gencar memberitakan masalah  lingkungan karena Bali menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20. Terkait hal itu J2PS terus berupaya meningkatkan pemahaman tentang lingkungan pada anggotanya. Terutama masalah penanganan sampah, khususnya sampah plastik,” katanya.

Dia menuturkan,  negara – negara yang berhasil  mengelola sampah dengan baik tak lepas dari masalah penegakan hukum.  “Jadi masyarakat harus kita edukasi serta diingatkan bahwa ada sanksi hukum, agar program pemilahan sampah dapat berhasil,” katanya.

Sementara itu Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Artha Ardana Sukawati,  berharap para anggota J2PS bisa memainkan perannya terkait pengelolaan  sampah dari sumber di Bali.

Wakil Gubernur Bali, Tjokorda Artha Ardana Sukawati (keenam dari kiri) usai mengukuhkan pengurus Jaringan Jurnalis Peduli Sampah di Klungkung, Bali, 29 Oktober 2022. Foto: Envira

“Penanganan sampah perlu kerja sama antara pemerintah, swasta dan media. Kami  berharap sampah di Bali lebih bersih, karena  lingkungan bersih menjadi isu penting ketika KTT G-20 digelar di Bali,” katanya.

Meski demikian, Wagub  Cok Ace mengingatkan, masalah sampah bukan semata untuk tujuan pariwisata, tapi lebih pada kesehatan dan kebersihan kita bersama. Masyarakat Bali sangat kaya dengan filosofi tentang lingkungan, seperti Tri Hita Karana.

“Tapi bagaimana implementasinya sekarang, sudah terjadi perubahan perilaku di masyarakat,  sehingga harus terus diingatkan kembali bahwa tugas manusia di bumi adalah  menjaga keseimbangan alam,” tutur Cok Ace, sapaan akrab Wagub.

Penulis: Eni Saeni

Eni Saeni
Author: Eni Saeni

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?