Alat Peraga Kampanye Bikin Sampah, Saatnya Green Election

Ilustrasi-Salah seorang relawan dari GudRnD melakukan daur ulang sampah APK agar kampanye menjadi tidak terbuang sia-sia. Foto: ant

  • Kampanye pada Pemilu lalu belum cukup baik karena membayarakan masyarakat, dan mencemari lingkungan.

envira.id, Jakarta—Masifnya pemberitaan berkaitan dengan alat peraga kampanye (APK) seperti baliho dan poster pasangan calon yang dipajang di sembarangan tempat sangat mengurangi keindahan kota. Bahkan, pemasangan yang tidak beraturan telah mencederai masyarakat dan menimbulkan sampah yang merugikan lingkungan.

“Kami merasa proses kampanye pemilu kemarin belum cukup baik lantaran masih saja membahayakan masyarakat dan justru mencemari lingkungan,” kata Lutviana, inisiator penelitian yang juga mahasiswi Program Studi Politik dan Pemerintahan Fisipol UGM, dalam keterangannya di Yogyakarta, Selasa (26/6).

Atas dasar itulah, lanjut dia, timnya akan meneliti wacana penerapan green election atau pemilihan umum (pemilu) hijau di Indonesia. Riset green election dilakukan untuk melihat bagaimana pengaruh wacana terhadap perilaku memilih masyarakat perkotaan.

Nantinya, kata Lutviana, penelitian ini akan melibatkan berbagai pihak, di antaranya instansi pemerintahan, praktisi, dan lembaga swadaya masyarakat serta masyarakat perkotaan sebagai subjek utama penelitian.

Lebih lanjut ia mengatakna, tim peneliti mahasiswa UGM menawarkan topik green election sebagai topik baru dalam kancah perpolitikan di Indonesia. Penelitian yang berkaitan dengan wacana tersebut, sejauh ini, belum banyak ditemui, bahkan dalam pandangan mereka belum ditemui di Indonesia.

Penelitian ini, nantinya, dibantu sejumlah peneliti yang juga berasal dari Fisipol UGM, yaitu Farida Ratnawati, Difta Mardi, Krisnanda Kogoya, dan Dian Arsyka, mahasiswi dari Departemen Geografi Lingkungan Fakultas Geografi UGM.

Difa, anggota tim peneliti menyebut, riset seperti ini telah dilakukan di dua kota, yakni Yogyakarta dan Jakarta. Pemilihan terhadap dua kota itu karena sebagai representasi masyarakat perkotaan untuk pengambilan data riset, termasuk di dalamnya pengambilan data secara survei maupun in-depth interview dengan pihak terkait.

Ia berharap penelitian itu akan terus berlanjut dan mencoba mengikutsertakannya pada Kompetisi Riset Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) Bidang Riset Sosial Humaniora yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. []

Penulis: Ahmadi Supriyanto

Author: Ahmadi

Related posts

Lonjakan Sampah Lebaran Kembali Jadi Pola Tahunan di Kota Bandung

Gubernur Pramono Ungkap Penyebab Tumpukan Sampah Usai Lebaran di Jakarta

Pemkot Denpasar Maksimalkan Penanganan Sampah Organik di Kawasan Wisata Sanur