TPA Rawa Kucing Perlu Normalisasi Cepat

Sejumlah petugas dari berbagai unsur tengah melakukan pemadaman kebakaran di TPA Rawa Kucing, yang terbakar, Jumat (21/10/2023). Foto: KLHK

  • Harus dapat dipastikan, limbah yang masuk merupakan residu dari sisa hasil pengelolaan sampah.

envira.id, Jakarta—Proses pembongkaran sampah yang lambat didunga menjadi penyebab panjanganya antrean yang terjadi di sepanjang jalan menuju lokasi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing, Kota Tengerang.

“Saya minta kepada DLH prosesnya (pembongakran sampah-red) dipercepat. Kalau lancar tidak akan menggangun lalu lintas di sekitar TPA,” kata Penjabat (Pj) Wali Kota Tangerang Nurdin, Senin (24/6).

Nurdin mengatakan itu, saat meninjau TPA Raw Kucing bersama Kepala Dinas DLH Kota Tangerang,  Wawan Fauzi. Kehadiran Nurdin untuk mengecek langsung proses pengangkutan dan pembongkaran sampah dari turk sama ke TPA.

Pada kesempatan itu, Nurdin memerintahkan jajarannya di DLH untuk melakukan normalisasi TPA Rawa Kuncing. Di antaranya dengan melakukan penataan dan pengetatan sampah yang masuk ke TPA.

Pengetatan yang dimaksud Nurdin adalah memastikan bahwa sampah yang masuk merupakan sampah hasil residu dari sampah yang telah dikelola. Pengelolaan sampah dilakukan melalui optimalisasi TPST 3R yang  melibatkan masyarakat.

“Keterlibatan masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri harus dioptimalkan,” tegasnya.

Dia mengakui pemerintah sebagai fasilitator dan regulator dituntut untuk dapat lebih berperan, di sisi lain keterlibatan masyarakat mutlak diperlukan. Apalagi, daya tampuung TPA sangat terbatas.

Menurut Nurdin, perkembangna tekonologi untuk pengelolaan sampah memang terus berkembang, namun membutuhkan waktu dan biaya untuk merealisasikannya. Karena itulah, peran masyarakat sangat dibutuhkan.

“Tidak ada salahnya bila kita bisa bertanggung jawab terhadap sampah yang kita hasilkan,” tegas dia.

Pemkot Tangerang juga sudah melakukan berbagai upaya untuk mengurangi sampah. Salah satunya meluncurkan inovasi baru berupa Mobil Wasgakum dan Mobil Pengangkut Sampah Spesifik atau Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Saat ini produksi sampah harian mencapai sekitar 1.300 ton, termasuk sampah B3 seperti limbah elektronik dan obat-obatan kedaluwarsa. Semua ini membutuhkan penanganan secara berkelanjutan.

Kehadiran inovasi baru ini diharapkan dapat mewujudkan lingkungan yang selalu bersih dan menciptakan kenyamanan bagi masyarakat dan Kota Tangerang.

Penulis: Ahmadi Supriyanto

 

Author: Ahmadi

Related posts

Lonjakan Sampah Lebaran Kembali Jadi Pola Tahunan di Kota Bandung

Gubernur Pramono Ungkap Penyebab Tumpukan Sampah Usai Lebaran di Jakarta

Pemkot Denpasar Maksimalkan Penanganan Sampah Organik di Kawasan Wisata Sanur