- Sistem isi ulang mengharuskan warga membawa galon sendiri, sehingga berkontribusi dalam mengurangi timbulan sampah plastik.
Envira.id, Badung – Merayakan hari jadi, Pemerintah Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, meluncurkan air minum isi ulang berbasis reverse osmosis (RO) dengan merek “Toya Dedari” yang akan digratiskan bagi warga untuk jangka waktu tertentu.
Peluncuran dilakukan oleh Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kabupaten Badung, Rasniathi Adi Arwana, bertepatan dengan perayaan hari ulang tahun ke-24 Desa Kutuh, Minggu, 19 April 2026.
Melalui kerja sama dengan perusahaan penyedia mesin air RO isi ulang, Toyamas, Pemerintah Desa Kutuh menghadirkan layanan air minum ramah lingkungan. Sistem isi ulang mengharuskan warga membawa galon sendiri, sehingga berkontribusi dalam mengurangi timbulan sampah plastik.
“Karena ini layanan isi ulang, warga harus membawa galon. Jadi tidak nyampah,” ujar CEO PT Toya Emas Indonesia, Dr. iur. Soendoro Soepringgo.
Dengan hadirnya air minum Toya Dedari diharapkan para pekerja sektor informal yang berpenghasilan rendah dapat mengonsumsi air minum berkualitas. Kabar baiknya, Pemerintah Desa Kutuh berencana menggratiskan Toya Dedari sampai beberapa waktu ke depan.
Air RO dikenal sebagai air yang higienis karena telah melalui proses penyaringan yang mampu menghilangkan bakteri dan mikroorganisme berbahaya. Konsumsi air ini dinilai dapat menurunkan risiko gangguan pencernaan serta membantu meringankan kerja ginjal karena kandungan mineralnya yang rendah.
Peluncuran Toya Dedari menjadi bagian dari terobosan Pemerintah Desa Kutuh dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Selain itu, desa juga mengembangkan sistem pengelolaan sampah terintegrasi melalui kerja sama dengan PT Ecoloop Indonesia.
Kerja sama tersebut mencakup pengolahan sampah organik, pengumpulan sampah anorganik, pengumpulan minyak jelantah, serta pembentukan komunitas BISA (Bersih Itu Sederhana Aja) untuk edukasi lingkungan.
Program pengumpulan minyak jelantah menjadi salah satu yang menarik perhatian dalam kegiatan tersebut. Rasniathi Adi Arwana bahkan sempat mencoba langsung menuangkan minyak jelantah ke dalam kotak penampungan yang disediakan di area Kantor Desa Kutuh.
Antusiasme warga terlihat dari banyaknya masyarakat yang datang membawa minyak jelantah dalam botol untuk disetorkan. “Biasanya saya buang, sekarang saya bawa ke sini,” ujar salah seorang warga.
Warga yang menyetor minyak jelantah mendapatkan kompensasi sebesar Rp3.500 per liter. Program ini menjadi contoh penerapan ekonomi sirkular, di mana limbah rumah tangga dikelola agar tidak mencemari lingkungan dan diolah kembali menjadi produk bernilai ekonomi.
Minyak jelantah tersebut dapat diolah menjadi berbagai produk, seperti biodiesel pengganti solar, campuran pakan unggas, hingga bahan bakar alternatif.
Penulis : Eni Saeni