Selamat Jalan, Ratu Sampah Indonesia: Bu Enci yang Rendah Hati

oleh Envira ID
  • Bu Enci mewariskan benih baik tata kelola sampah bagi generasi kini dan nanti.

envira.id – Dugaan saya meleset dan saya kehilangan momen berharga: turut mengantar tokoh yang menyandang gelar “Ratu Sampah”, Sri Bebassari, ke rumah abadinya.

Langkah saya terhenti, dan saya tertegun membaca pesan yang dibagikan seorang rekan di grup percakapan WhatsApp (WA): jenazah Sri Bebassari telah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Utan Kayu, Jakarta, Jumat jam 8 pagi, 16 Mei 2025.

Apa boleh buat, saya “ketinggalan kereta”. Kamis malam, 15 Mei 2025, setelah beberapa jam sebelumnya mendengar kabar duka itu, saya menyimak beberapa pernyataan Bu Enci—sapaan akrab Sri Bebassari—di kanal YouTube. Satu hal yang sangat membekas di hati: Pemerintah pusat dan daerah bertanggung jawab atas pengelolaan sampah. Apapun keadaannya, “masyarakat tak bisa disalahkan. Pengelolaan sampah adalah tanggung jawab pemerintah,” ujarnya tegas.

Satu pesan penting lain: pemerintah harus “memaksa” produsen untuk menangani limbah kemasan produknya. Bahkan, seharusnya izin operasional sebuah perusahaan baru bisa diterbitkan bila mereka punya perencanaan matang tentang pengelolaan sampah kemasan atau produknya.

Alumnus Teknik Lingkungan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini sangat keras dan serius jika berbicara tentang pengelolaan sampah di Indonesia. Dan, suaranya didengar. Tapi ia juga perempuan lembut dan rendah hati.

Suatu siang, ia menghadiri acara peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2022 di kantor Kementerian Lingkungan Hidup, Jakarta. Setelah mengunjungi booth-booth di area exhibition, Menteri LHK Siti Nurbaya beserta rombongan masuk ruang VVIP. Bu Enci berhenti beberapa depa di luar pintu.

“Kok nggak masuk, Bu?” saya bertanya.

Jawabnya ringkas: “Enggak lah, saya nggak diajak (diundang) masuk.” Benarkah?

Spontan saya mendekati mantan Menteri Lingkungan Hidup Rahmat Witoelar yang berdiri tak jauh dari pintu.

“Pak, saya datang bersama Bu Enci,” bisik saya.

“Eh, mana Bu Enci, sini diajak masuk,” jawabnya hangat.

Saya lega. Bu Enci dengan langkah ringan bergabung dengan tamu undangan dan bersantap siang bersama. Tetap rendah hati, dan tetap sederhana.

Saya mengenalnya bukan sebagai akademisi  atau peneliti yang haus sorotan. Ia lebih mirip guru lapangan, menjelaskan dengan bahasa sederhana, tak pernah mencela, tapi tak juga menahan kritik.

Beberapa aktivis lingkungan menjulukinya “ensiklopedia berjalan” soal kebijakan persampahan di Indonesia. Tak heran, ia termasuk sedikit orang yang memahami detail  UU No. 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah—dan turut aktif dalam penyusunannya.

Pasca-tragedi longsor TPA Leuwigajah tahun 2005, Bu Enci adalah salah seorang yang paling lantang menolak praktik open dumping di tempat pemrosesan akhir (TPA) sampah. Ia mendorong penerapan sistem sanitary landfill, bukan sekadar memindahkan masalah dari satu gunungan sampah ke tempat lain.

Bagi Bu Enci, pengelolaan sampah harus memperhatikan aspek keadilan sosial, termasuk perlindungan bagi mereka yang terdampak langsung, seperti pemulung dan masyarakat di sekitar TPA. Ia tak silau pada jargon ekonomi sirkular, karena ia sendiri sudah menapakinya sejak lama dengan kerja keras, advokasi, dan dialog lintas pihak.

Kini, suaranya memang telah hening. Tapi warisan pikirannya—dan keteladanan sikapnya—terus bergema. Di hari pemakamannya, ucapan duka mengalir deras di grup-grup WA: dari mantan pejabat, aktivis, hingga warga yang pernah disentuh gagasannya.

Saya memang “ketinggalan kereta”, tidak menyaksikan pemakamannya. Tapi tidak, saya tidak terlambat untuk terus membawa semangat Bu Enci dalam setiap kampanye dan diskusi tentang lingkungan, terutama isu persampahan.

Ia boleh saja telah tiada. Tapi “Ratu Sampah” itu mewariskan benih baik tentang tata kelola sampah, bagi generasi kini dan nanti. Dan,  kita semua tahu, benih yang baik akan selalu menjalar, tak pernah sia-sia.

Penulis: Eni Saeni

Envira ID
Author: Envira ID

Envira ID adalah situs web yang menyajikan informasi tentang lingkungan, utamanya masalah persampahan di Indonesia.

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?