Idulfitri Berkelanjutan

oleh Ahmadi
  • Tindakan bijak umat Muslim dalam belanja dan konsumsi saat menjalankan Puasa dan Idulfitri menjaga kesakralan Hari Kemenangan itu.

Idulfitri punya arti penting bagi umat Muslim. Selain terkandung makna hari kemenangan sebagai tanda berakhirnya bulan Ramadan yang di dalamnya umat Muslim berhasil menjalankan segala yang diperintahkan dan menjauhi apapun yang dilarang, Idulfitri juga menjadi sangat istimewa karena terkandung makna perayaan sosial.

1 Syawal sebagai hari Idulfitri merupakan momen spesial penuh kebahagiaan, sukacita, dan rasa syukur. Bahagia karena berhasil menjalankan ibadah puasa sebulan penuh. Sukacita karena mampu melakoni segala ibadah dengan semangat, kesabaran, dan ketekunan. Syukur karena diberikan kesempatan untuk merasakan nikmat itu semua. Berapa banyak umat Muslim yang tidak dapat merasakan kehadiran Idulfitri karena berbagai halangan.

Namun, ada yang paling dinanti bagi umat Muslim saat Idulfitri, yakni momen silaturahmi dan kumpul-kumpul keluarga, sahabat, dan tetangga. Saat-saat seperti itu diyakini menjadi peristiwa sangat penting untuk meraih keberkahan dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Menjalin tali silaturahmi membuat hidup lebih bermakna dan saling memaafkan adalah cara lain untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Maka, untuk menyambut hari spesial itu, umat Muslim selalu mempersiapkannya dengan baik. Hidangan dibuat spesial dalam takaran yang banyak. Pakaian, sepatu, sandal, tas, kosmetik, parfum semuanya serba baru. Lihatlah di toko-toko, supermarket, mal, pusat perbelanjaan, lokapasar semua dibanjiri pemintaan yang melonjak.

Di satu sisi kita melihatnya sebagai hal yang wajar. Ini barangkali bentuk ekspresi kebahagiaan menyambut momen spesial yang jarang dilakukan. Toh, hanya setahun sekali. Banyak yang berargumen, “Boleh dong sesekali memanjakan diri atau memberikan perhatian lebih kepada orang-orang yang kita sayangi.”

Belum lagi dari sisi ekonomi. Pemerintah bahkan menganjurkan agar masyarakat berbelanja agar roda ekonomi yang sempat stag selama tiga tahun sejak pandami tahun 2020 dapat segera bergerak. Studi yang dikeluarkan Mandiri Institute memprediksi belanja masyarakat membaik pada awal II/2021 saat menjelang periode Ramadan dan Idulfitri dibandingkan dengan periode prapandemi Covid-19 pada awal 2020.

Di tahun ini, Bank Indonesia juga mengeluarkan analisisnya bahwa pembelian ritel akan meningkat secara signifikan pada April 2023, sejalan dengan peningkatan belanja konsumen selama periode Idulfitri dan dihilangkannya aturan PPKM. Ada studi yang mengatakan, 60% konsumen Indonesia berencana untuk membelanjakan setidaknya Rp3 juta selama periode Ramadan dan Idulfitri tahun 2023 ini.

Data di atas seolah mengonfirmasi fakta bahwa selama Ramadan selalu terjadi peningkatan volume sampah di beberapa daerah, sebagai konsekuensi peningkatan konsumsi. Sebut saja Kota Bogor yang telah memperkirakan “kebanjiran” sampah selama Ramadan. Jumlahnya mencapai 0,3 persen atau 3 ton per hari. Di Kota Surabaya, DLH kota setempat menyebut ada peningkatan hingga 200 ton per hari saat Ramadan dan bisa mencapai 500 ton jelang Idulfitri. Di Kota Padang juga sama. Di kota ini, lonjakan volume sampah mencapai 10 persen, menjadi sekitar 700 ton per hari.

Boleh jadi, banyak yang tidak tahu, di tengah kebahagiaan orang-orang merayakan Idulfitri ada petugas kebersihan yang sibuk bekerja menjaga lingkungan tetap asri. Mereka bekerja 24 jam, silih berganti. Tak dipungkiri, Idulfitri selalu menyisakan masalah sampah dan kebersihan. Seringkali kita mempersiapkan makanan dan minuman dalam jumlah yang terlalu banyak, hingga akhirnya berujung basi, tak layak konsumsi dan berakhir sebagai limbah.

Seperti pernah disampaikan Zero Waste Indonesia, peningkatan sampah selama Ramadan dan Idulfitri, secara umum bisa mencapai 20%. Bahkan, untuk sampah sisa makanan bisa mencapai 500 ton. Sedangkan sampah-sampah lainnya didominasi plastik dan kertas karena selama Ramadan dan persiapan Idulfitri, tas-tas belanja dan bawaan selalu digunakan pedagang untuk mengemas dagangannya.

Tentu ini menjadi tantangan besar buat umat Muslim. Bagaimana merayakan “Hari Kemenangan”, hari di mana manusia kembali fitrah dan bersih, tetapi di sisi lain tidak meninggalkan sampah berlebih. Peningkatan produksi sampah tentu saja berdampak pada lingkungan sekitar. Sebagai Muslim, kita wajib untuk menjaga kebersihan dan meninggalkan kemubadziran. Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan.

Pertama, kurangi penggunaan kantong plastik. Saat berbelanja keperluan puasa atau Lebaran sebaiknya membawa tas sendiri. Penggunaan tas yang berulang kali tentu dapat mengurangi sampah plastik yang beredar.

Kedua, pilih bahan makanan yang dapat diolah dengan baik. Hindari membeli bahan makanan dalam jumlah berlebih dan belilah yang masih baik dan segar. Jika tidak hanya akan berujung pada pembuangan makanan yang tak dapat dikonsumsi.

Ketiga, pilah sampah. Buanglah sampah sesuai jenisnya agar memudahkan pengelolaan sampah. Dan, jangan pernah membuang sampah di tempat yang tidak seharusnya karena dapat mencemari lingkungan.

Keempat, buatlah kompos. Sampah sisa makanan jangan langsung dibuang. Tapi buatlah kompas dari sampah makanan.  Hal ini jauh lebih bermanfaat ketimbang harus membuang di tempat sampah yang berisiko menghasilkan polusi udara, air, dan tanah.

Idulfitri adalah momen kebahagiaan, perayaan kemenangan, dan peristiwa spesial yang selalu dinantikan setiap tahun. Maka, ada baiknya kita jaga momen sakral itu dengan tindakan bijak yang tidak merusak lingkungan.

Selamat Idulfitri. Mohon Maaf Lahir—Batin. []

Penulis: Ahmadi Supriyanto

 

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?