Danone Aqua Respon Positif Usulan Stop Produksi Air Minum Kemasan Gelas

oleh Envira ID

Share via
  • Danone menawarkan salah satu solusi yakni kemasan PET 220 ml berukuran saku. Kemasan ini memiliki berbagai kelebihan dari kemasan gelas  yaitu  dapat didaur ulang, tanpa sedotan, tanpa label plastik, atau tutup yang disegel.

envira.id, Jakarta – Danone Aqua merespon positif usulan untuk menghentikan produksi air mimun kemasan gelas, yang dilontarkan oleh lembaga swadaya masyarakat (LSM)  Sungai Watch.

Usulan itu dilatari temuan Sungai Watch sepanjang tahun 2022, dirangkum dalam Impact Report 2023, yang dirilis baru – baru ini.

Menurut Sungai Watch, untuk kategori sampah gelas plastik,  Danone menyumbang pencemaran di sungai sebanyak 13 persen. Co-founder Sungai Watch, Kelly Benchegib, berharap Danone melakukan perubahan, antara lain menyetop produksi air minun kemasan gelas.

Dalam video yang diunggah di akun Instagram @sungaiwatch, Kamis, 15 Februari 2024, Kelly mengatakan, memproduksi air minum kemasan sekali pakai  berarti megakui melakukan pencemaran lingkungan.

Direktur Pengembangan Keberlanjutan Danone Indonesia, Karyanto Wibowo menyatakan pihaknya menghargai semua masukan termasuk dari Sungai Watch. Terkait kemasan gelas, menurut Karyanto, pihaknya menawarkan salah satu solusi yakni kemasan PET 220 ml berukuran saku. Kemasan ini memiliki berbagai kelebihan dari kemasan gelas  yaitu  dapat didaur ulang, tanpa sedotan, tanpa label plastik, atau tutup yang disegel.

“Kami berharap produk ini dapat menjadi produk alternatif untuk berbagai aktivitas sehari-hari di Indonesia,” katanya.

Karyanto menuturkan, kemasan gelas telah menjadi bagian intergral dari cara hidup masyarakat Indonesia dan sangat populer dalam berbagai acara budaya dan lainnya.

“Kami telah mengkaji selama bertahun-tahun bagaimana kami dapat berkontribusi dalam mengubah perilaku masyarakat dalam konsumsi dan pengelolaan sampah kemasan plastik bekas. Tidak hanya gelas, tapi juga efisiensi infrastruktur pengumpulan sampah di Indonesia,” ujarnya.

Melihat laporan Impact Report 2023, menurut Karyanto, bisa disimpulkan jumlah kemasan AQUA yang terkumpul dari tahun ke tahun menurun.  “Ini menunjukkan terjadi perbaikan atas upaya yang kami lakukan bersama konsumen dan stakeholders terkait,” katanya.

Ia menambahkan, merujuk UU Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, masalah sampah bukan hanya tanggung jawab korporasi seperti Danone, tetapi juga pemerintah daerah dan masyarakat umum.

“Kami telah menjalankan upaya pengelolaan sampah sejak 1993 dan akan terus melanjutkan usaha kami memperkuat sistem pengelolaan sampah plastik, memperkuat keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, antara lain produsen, pemerintah, LSM, masyarakat, dan konsumen sehingga pengelolaan sampah menjadi lebih baik,” katanya.

Karyanto juga menyinggung Sungai Watch yang kurang lengkap dalam mempublikasikan temuannya. Ia mengambil contoh, tas kresek/plastik fleksibel  yang jumlahnya mencapai 20 persen dan bahan sisa seperti pembalut dan popok (31 persen) tidak dipublikasikan secara khusus.

Selain itu menurut dia,  kemasan yang sulit didaur ulang seperti multilayer yang banyak ditemukan juga tidak mendapatkan perhatian secara khusus dalam Impact Report 2023 Sungai Watch.

Penulis : Eni Saeni

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?