Acungi Jempol, Bengkulu Bakal Dirikan Industri Batako Berbahan Sampah Plastik

oleh Ahmadi

Share via
  • Jika industri ini sudah berdiri dan efektif berjalan, maka dapat mengurangi volume sampah yang mencapai 84 ton per hari.

envira.id, JakartaBerbagai kreasi pengelolaan sampah terus bermunculan, sebagai bagian dari mengurangi tumpukan sampah yang berakhir di TPA sekaligus menciptakan ekonomi sirkuler yang memiliki dampak postif bagi ekonomi rakyat.

Hal ini dilakukan oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. Pemerintah setempat berencana mendirikan industri pembuatan material bangunan jenis batako berbahan baku dari sampah plastik.

Rencana produksi batako dan paving blok muncul setelah pemrov setempat mengikuti pelatihan bersama dengan pemerhati lingkungan bidang pengolahan sampah.

“Setelah kita uji coba, hasilnya cukup bagus dan bisa kita produksi secara luas,” kata Kepala DLH Rejang Lebong Dhendi Novianto Saputra, akhir pekan lalu.

Dhendi menyebut, pembuatan industri batako dari sampah plastik ini bisa mengurangi volume sampah yang bersal dari buangan masyarakat Rejang Lebong setiap harinya, baik dari lingkungan pemukiman maupun pasar. Saat ini volume di Rejang Lebong setiap harinya mencapai 84 ton, dan saat memasuki bulan puasa serta lebaran bisa mencapai 100 ton.

Ditambahkan Dhendi, sampah yang dikumpulkan petugas kebersihan ini setiap hari diangkut ke TPA Jambu Keling di Desa Bandung Marga, Kecamatan Bermani Ulu Raya, dan satu lagi di TPA Desa Guru Agung, Kecamatan Padang Ulak Tanding.

Nantinya, lanjut dia, pengolahan sampah untuk pembuatan bahan bangunan ini, akan dilakukan melalui BLUD persampahan yang saat ini masih dalam proses pendirian. Yang jelas, saat ini, prosesnya sudah didaftarkan DLH Rejang Lebong sebagai inovasi daerah.

Sambil menunggu proses pembentukan BLUD persampahan rampung, sambung Dhendi, pihaknya juga terus mencari cara pembuatan batako yang paling optimal.

“Karena selama ini prosesnya masih manual, yakni dengan pembakar sehingga menimbulkan asap. Kita masih cari cara lain agar tidak menimbulkan polusi udara,” tegas dia. []

Penulis: Ahmadi Supriyanto

 

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?