Budi Rongsok, Ikon Sampah Anorganik Salatiga

oleh Eni Saeni

Share via

Bisnis Budi memberdayakan sekitar 50 orang pemulung.  

Envira.id, Salatiga – Sebut namanya: Budi Rongsok. Sebagian besar  warga kota Salatiga pasti mengenalnya. Salatiga adalah kota kecil di lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah,  dengan populasi hampir 200.000 orang.

Kata “rongsok” merujuk ke bisnis yang digeluti Budi: jual- beli beragam  barang bekas atau biasa disebut barang rongsokan. Pendek kata, Budiyono, nama asli pria 52 tahun itu,  adalah pengepul atau bandar sampah anorganik.

Di gudangnya di Jalan Buksuling, Salatiga, menggunung beragam  jenis sampah anorganik mulai  dari kertas, kardus, plastik, kaleng bekas, besi, almunium, sampai botol kaca.

Suasana gudang milik Budi di Salatiga, 15 September 2022. Foto: Anjas Yanasmoro Aji.

“Dulu awalnya hanya pekerjaan sambilan.  Tapi ternyata  usaha rongsokan lebih menguntungkan,” kata Budi sambil terkekeh.

Sebelumnya Budi pernah menjadi distributor air mineral. Tetapi, yaitu tadi, setelah mengetahui gurihnya bisnis “rongsokan”, pada 2007  ia  memutuskan  menekuni usaha sampah anorganik.

Seperti pebinis pada umumnya,  di tahap awal Budi menemui banyak kendala. Tak gampang.  “Awalnya saya dengan mengendarai  sepeda motor keliling pasar, kampung, sampai ke kompleks perumahan, membeli barang rongsokan.  Lalu saya jual ke pengepul,” katanya.

Pengalaman getir yang tak terlupakan  antara lain saat Budi harus berurusan dengan aparat penegak  hukum. “Saya pernah dituduh sebagai penadah (barang curian). Tapi  tidak terbukti, karena saya memang bukan penadah,” ujar dia.

Trend pertumbuhan bisnis  Budi bisa dibilang cukup mantap. Ia  “hanya” perlu waktu enam tahun untuk naik kelas menjadi pengepul atau bandar. Pada 2013 ia membeli gudang berlokasi tak jauh dari pusat perniagaan Taman Sari, Salatiga, seharga Rp700 juta.

Suasana di gudang sampah anorganik milik Budi di Salatiga, pada 15 September 2022. Foto: Anjas Yanasmoro Aji.

Sekarang Budi bisa disebut sebagai bandar atau pengepul sampah anorganik terbesar di Salatiga. Dia mendapat pasokan barang dari  sekitar 50 orang pemulung. Para pengepul kecil di seputaran kota Salatiga seperti Suruh dan Getasan, Kabupaten  Semarang, juga mengrim barang ke Budi. “Saya juga bekerja sama denga beberapa bank sampah,”  kata bapak empat anak itu.

Selebihnya Budi kerap mendapat barang  dagangan dalam jumlah besar jika ada pabrik atau perusahaan yang  melelang limbah atau sampahnya.  “Kalau ada borongan dari pabrik, untungnya lumayan. Ini saya dapatkan dari relasi dan teman – teman,” ujarnya.

Selanjutnya Budi menjual “barang  rongsokannya “ ke pengepul besar dan sebagian  dikirim  langsung ke pabrik daur ulang. “Ada yang dikirim ke Kendal, Semarang, dan Sidoarjo,” kata pria yang hobi memelihara ikan ini.

Memperkerjakaan sepuluh orang karyawan, omset bisnis Budi kini tak kurang dari Rp30 juta per hari. “Saya bersyukur  bisa  menggaji  karyawan, untuk memenuhi kebutuhan anak dan istri  mereka. Supaya dapurnya tetap ngebul,” kata warga  Pancuran, Kutowinangun Lor, Kematan Tingkir, itu.

Lima belas tahun menggeluti bisnis sampah anorganik, membuat Budi sangat popular di kotanya. Sampai – sampai ada yang menyebut keterkenalannya tak kalah, misalnya, dibandingkan dengan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Salatiga, Dance Ishak Palit.

Budi Rongsok, nama yang telah berubah menjadi “merk” dan juga ikon dalam usaha sampah anorganik di Salatiga.

Penulis: Anjas Yanasmoro Aji

 

 

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Send this to a friend