- Jika kita jeli melihat peluang, kreatif dan inovatif, ternyata sampah bisa membawa berkah dan mendatangkan rezeki.
Envira.id, Denpasar –– Lukisan wajah para pesohor Indonesia menghiasi ruang jamuan makan para peserta Road to G-20 “Beating Plastic Pollution from Source to Sea” di International Bali Resort, Jimbaran, Bali, awal November 2022.
Selain wajah Presiden Joko Widodo (Jokowi) ada paras Menko Marves, Luhut Binsar Panjaitan, mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri BUMN, Erick Tohir, Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarno Putri, dan pengusaha papan atas, Abu Rizal Bakrie.
Tapi bukan rupa orang- orang beken itu yang membuat lukisan tadi istimewa. Karya seni itu menjadi “wah” karena proses pembuatannya dan bahan yang digunakan. Asal tahu saja, sang kreator, Jafar Labib, tak menggunakan cat atau tinta, untuk melukis . Pria asal Pati, Jawa Tengah, itu memanfaatkan sampah plastik, tepatnya sampah kantong plastik atau biasa disebut tas kresek, untuk membentuk wajah tokoh yang digambarnya.
Jadi, sebenarnya karya Jafar Labib bukanlah lukisan, lebih tepat disebut kerajinan tangan. Cuma hasil akhirnya, menyerupai lukisan. Dan, di kartu namanya, pria 41 tahun itu menyebut dirinya sebagai perajin lukisan sampah plastik. Bukan pelukis.
Jika dilihat dari jauh, karya Jafar Labib memang tampak mirip lukisan. Wajah Jokowi, misalnya, kelihatan layaknya lukisan berkelir hitam putih. Namun bila ditilik dari dekat, ditelisik detailnya, baru ketahuan citra itu terbentuk dari pilinan bekas kantong kresek.

Jafar Labib, perajin lukisan sampah plastik saat berpameran di rangkaian KTT G-20 Bali, Oktober 2022. Foto: Eni Saeni.
Jafar mulai membuat lukisan dari sampah plastik sejak 2016. Ide kreatif itu dipantik oleh banyaknya sampah kantong kresek yang berserak di lingkungan tempat tinggalnya, Desa Jepatlor, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.
“Saya berpikir bagaimana caranya agar sampah plastik punya nilai ekonomi ,” ujarnya.
Ia mengumpulkan sampah kantong kresek itu, lalu dicuci, dikeringkan dan dipilin. Pilinan sampah plastik itulah yang kemudian ia kreasikan menjadi bermacam produk kerjaninan mulai dari peci, jam dinding, tempat tisu, dan lukisan.
Untuk membuat lukisan itu prosesnya tak mudah, harus teliti dan sabar. Sampah kantong plastik yang sudah dipilin ditempel menggunakan lem pada sketsa wajah yang sudah dibentuk. Lukisan ukuran 40 X60 cm memerlukan 150 lembar kantong plastik, sedangkan untuk ukuran 75 X 100 cm menghabiskan 500 lembar tas kresek.
Awalnya Jafar memperkenalkan karyanya melalui pameran digelar oleh Pemerintah Daerah setempat. Belakangan ia memanfaatkan media social untuk berpromosi. “Ternyata peminatnya banyak di lukisan, jadi produk kerajian lain saya tinggal dulu,” ujarnya.
Penasaran? Karya -karya Jafar dapat dilihat di akun instargram @tirem_gallery , Facebook Tirem Channel atau Youtube Tirem Channel.
Akhirnya karya kreatif Jafar mendapat apresiasi dari banyak pihak. Sebelum diberi kesempatan berpameran di event Road to G-20 di Jimbaran, Bali, Jafar antara lain pernah dipanggil Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Lalu, pada Januari tahun depan ia diminta memerkan karyanya di Gedung DPR/MPR Senayan, Jakarta.
“Untuk yang di G-20 Bali, sebelumnya saya ditelpon dari Kementerian Koordinator Kemaritiman dan Investasi, “ ujar dia.
Harga lukisan Jafar bervarias mulai dari Rp1.000.000 hingga Rp5.000.000. Untuk lukisan ukuran 100 x 75 cm , misalnya, dibandrol Rp5.000.000. “Proses pengerjaannya paling lama 10 hari. Untuk yang kecil, ukuran 40 x60 cm perlu waktu sekitar 5 hari,” katanya.
Jafar bersyukur sampah plastik membawa keberuntungan bagi keluarganya. “Jika kita jeli melihat peluang, kreatif dan inovatif, ternyata sampah bisa membawa berkah dan rezeki,” ucap Jafar.
Ke depan, Jafar ingin melibatkan banyak pihak pada “proyek” lukisannya. Terutama para pemulung sebagai pemasok.
“Saya juga akan mengajak teman-teman disabilitas yang tergabung dalam Pertuni Jawa Tengah untuk bergabung kelola sampah plastik,” kata Jafar.
Penulis: Eni Saeni