- Siswa sadar untuk menjaga kebersihan lingkungan sekolah, meskipun ada petugas kebersihan.
Envira.id, Pamulang – Perilaku para siswa sekolah dasar (SD) berubah setelah mendapat edukasi mengenai pengelolaan dan pengurangan sampah. Mereka melakukan pemilahan sampah baik di rumah maupun di sekolah serta menerapkan praktik guna ulang dengan membawa wadah makanan dan minuman saat berangkat ke sekolah.
Demikian hasil survei yang dilakukan oleh Yayasan Imaj Hijau Nusantra (YIHN) di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kademangan 01, Kecamatan Setu, Tangerang Selatan, Banten, belum lama ini.
Survei itu dimaksudkan untuk megetahui dampak dari edukasi mengenai pemilahan sampah di sekolah tersebut, yang dilakukan oleh YIHN pada 16 Februari 2023.
Ketika itu, sebanyak 200 orang siswa mengikuti edukasi pilah sampah di sekolah. Para siswa antara lain diberi pemahaman tetang pentingnya memilah sampah organik dan sampah anorganik untuk mengurangi jumlah sampah yang diangkut ke tempat pemrosesan akhir (TPA). Para siswa juga diajak praktik memilah sampah berdasarkan jenisnya.
Selain itu, para murid juga diberi pemahaman tentang meteode 3R dalam pengelolaan sampah, dengan penekanan pada praktik guna ulang (reuse) untuk mengurangi sampah.
Hasil survei menunjukkan, setelah diedukasi hampir semua responden (99,5 persen) mengaku membawa tempat minuman atau tumbler, juga wadah makanan ke sekolah. Dengan demikian mereka tidak memproduksi sampah berupa bekas wadah makanan atau minuman.
“Kebetulan pihak sekolah telah mengimbau para pedagang di lingkungan sekolah untuk tidak menggunakan wadah plastik sekali pakai, “ kata Ketua YIHN, Eni Saeni.
Terkait pemilahan sampah, mayoritas (97,3 persen) responden mengaku melakukan hal tersebut di rumah. Bahkan mereka juga mengajak ibunya untuk memilah sampah.
Yang menarik, semua responden (100 persen) mengaku mengingatkan ibunya untuk membawa tas atau kantong /totebag saat berbelanja agar tidak diberi tas plastic sekali pakai oleh pihak penjual atau pedagang.
Para siswa (100 persen responden) juga mengaku tahu perbedaan antara sampah organik dan sampah anorganik. Sebagian besar responden (98,4 persen) juga tahu apa itu sampah berbahan beracun dan berbahaya (B3). Tetapi Ketika mereka diminta memilih contoh sampah B3, hanya 95,2 persen responden yang menjawab dengan tepat.
Mayoritas siswa (94,6 persen responden) tahu metode 3 R (reduce, reuse, recycle) dalam pengananan sampah. Tetapi hanya 90,9 persen responden yang memilih jawaban yang benar mengenai contoh tindakan pengurangaan sampah (reduce).
Lebih jauh, sebagian besar responden (96,4%) paham bahwa memilah sampah membuat penanganan sampah menjadi lebih baik. Semua responden (100 persen) paham bahwa membuang sampah sembarangan dapat menyebabkan bencana banjir dan menimbulkan penyakit.
Terkait kebersihan di sekolah, semua responden setuju mereka harus menjaga kebersihan lingkungan sekolah, meskipun ada petugas kebersihan.
Eni Saeni menuturkan, survei melibatkan 186 siswa atau 93 persen dari 200 siswa yang sebelumnya diedukasi. “Karena kendala teknis tidak semua siswa yang diedukasi bisa menjadi responden. Tapi jumlah itu, 186 orang siswa, sudah cukup mewakili populasi,” ujarnya.
Penulis : Ardianto Prabowo