Salah Pandang Bekatul: Sering Diremekan dan Dianggap Limbah

oleh Ahmadi

Share via
  • Sudah lama nenek moyang kita mengetahui bahwa Bekatul memiliki nutrisi sangat baik, tapi oleh teknologi justru hal itu dibaikan.

envira.id, Jakarta—Indonesia bersama Brasil dan India menjadi negara penyumbang terbesar terhadap total emisi karbon dari sektor pertanian. Bila dihitung termasuk dengan pertanian, jejak karbon yang dihasilkan mencapai 30%.

Salah satu penyebab utamanya berasal dari budidaya padi. Ada catatan menyebut, sawah setidaknya menyumbang 10% dari emisi produksi pertanian. Selain itu, jejak karbon rantai nilai beras dapat dikurangi sekitar 27% kalau bisa menerapkan hemat air. Dan, bahkan hingga 37% melalui tingkat pemulihan produksi.

“Sementara produk sampingan dari proses pemilahan padi sekam dan bekatul atau rice brand berperan besar dalam mengatasi krisis iklim,” kata  Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sri Murningtyas pada diskusi Pojok Iklim bertema “Iklim, Pangan, dan Kesehatan”, Rabu, 29 Maret 2023.

Ia mengatakan, sekitar 60% hasil penggilangan pagi adalah beras giling. Sedangkan hasil sampingannya adalah sekam 23%, lalu dedak dan bekatul 10%. Sedangkan sisanya berupa kotoran.

Sementara Agus Pakpahan, pakar bekatul terfermentasi mengatakan, salah satu sebab mengapa pertanian berkontribusi besar terhadap perubahan iklim karena dampak penerapan teknologi dan manajemen yang sebenarnya sudah diprediksi tidak akrab dengan kondisi lingkungan hidup.

Misalnya, kata dia, monokultur telah membuat pertanian bergantung pada satu atau dua jenis spesies saja. Kondisi ini bukan menjadi khas Indonesia semata. Yang jelas, monokultur yang terlalu menggantungkan pada teknologi modern menyebabkannya menjadi  “kecanduan” pupuk pestisida. “Itu memberi emisi terbesar,” katanya.

Apalagi, sambung dia, pertanian padi dalam monokultur airnya menggenangi sawah yang bisa berdampak pada munculnya reaksi anaerob yang bisa menghasilkan metan. Fenomena penggunaan pupuk yang terjadi sejak tahun 1960 di dunia menjadikan penyebab mengapa pertanian memberikan cukup emisi ke bumi.

Menurut Agus, pemecahan masalah ini bisa diatasi dengan menerapkan sirkular ekonomi yang sudah sejak lama dilakukan oleh nenek moyang bangsa Indonesia.  Ia mengingatkan semua persoalan selalu berkaitan dengan budaya dan kebiasaan, yakni membelokkan yang benar menjadi salah dan sebaliknya, seperti yang saat ini terjadi.

Inilah yang menurut Agus menimpa bekatul. Padahal, sejak dulu, para nenek moyang sudah memahami bahwa nutrisi terbaik ada di bekatul dan ini sudah dikuatkan oleh sains. Tetapi kemudian melalui tekonologi dan budaya modern, misalnya dalam penerapan standar SNI beras Indonesia tak boleh ada bekatul.

“Beras premium tidak boleh ada bekatul. Baru tahun 2020 direvisi menjadi kandungan bekatul 5 persen,” tandas Agus. “Padahal yang bagus dan sehat itu bekatul yang masih menempel di beras.”

Budaya berpikir yang dibalik-balik ini, lanjut Agus, menjadi penyebab terjadinya perubahan iklim, termasuk di sektor pertanian. Artinya, jika sektor pertanian bisa men-zero-kan emisi dari sektor ini dengan memanfaatkan bekatul, maka banyak keuntungan yang didapat.

“Saya tegaskan di sini. Bekatul itu bukan limbah,” katanya.

Untuk itu, tegas Agus, paragidmanya harus no waste bukan zero weste. Karena kalau no waste masih bisa memanfaatkan bekatul, sekam, dan jerami sebagia sumber daya.

“Inilah yang harusnya dilakukan, yakni berfikir sirkuler. Jadi tidak ada limbah.”  []

Penulis: Ahmadi Supriyanto

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?