Pengelolaan Sampah Perlu Diindustrialisasi

Ilustrasi-Pengelolaan sampah terpadu menggunakan teknologi MASARO yang dikembangkan PT INTI. Foto: Kementerian BUMN

  • pengelolaan sampah tidak dapat dilakukan sambil lalu tapi membutuhkan penanganan yang serius.

envira.id, Jakarta—Industrialisasi pengelolaan sampah menjadi salah satu langkah yang perlu dilakukan untuk mendukung upaya penanganan sampah di Indonesia. Seperti halnya industri lainy, pengelolaan sampah perlu teknologi,  pengelolaan manajemen yang baik, sumber daya mumpuni, dan harus dilakukan secara profesional dan modern.

Hal ini dikatakan Direktur Penanganan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Novrizal Tahar dalam embahasan pembaruan isu pengelolaan sampah, limbah dan B3 dipantau via daring di Jakarta, Selasa (2/7).

Karena itu, Novrizal mengatakan pengelolaan sampah tidak dapat dilakukan sambil lalu tapi membutuhkan penanganan yang serius. Ia juga menekankan, perlunya keterlibatan semua pihak untuk mendukung tiap tahapan dari proses pengelolaan sampah ini.

“Pemerintah daerah sebagai regulator tidak lagi terlibat langsung dalam melakukan pengumpulan dan pengangkutan sampah tapi menyerahkan kepada pihak profesional yang memang memiliki kapasitas pengelolaan sampah dan limbah,” terang dia.

Sebab itulah, Novrizal menilai, dunia usaha yang memang profesional perlu melakukan kolaborasi dengan pemerintah daerah sehingga pengelolaan sampah bisa dilakukan dengan profesional dan modern.

Terkait industrialisasi pengelolaan sampah yang menggunakan prinsip ekonomi sirkular, dia merujuk kepada penggunaan teknologi untuk memanfaatkan sampah agar tidak berakhir tercampur di tempat pembuangan akhir, seperti menggunakannya untuk energi dan bahan baku industri.

Ia melihat banyak pengelolaan sampah di Indonesia, yang memiliki potensi tetapi belum dimanfaatkan. Contohnya, bagaimana industri pakan ternak di Indonesia masih melakukan impor tepung jeroan untuk bahan baku. Padahal, pengelolaan sampah dengan teknologi maggot sebagai pengganti pakan yang saat ini masih diimpor sangat terbuka untuk dioptimalkan.

Ia juga menyoroti potensi sampah menjadi energi yang dicanangkan di 12 kota serta pengelolaan sampah menggunakan teknologi refuse derived fuel (RDF), yakni pengolahan sampah anorganik sebagai bahan bakar alternatif di berbagai industri.

Saat ini, Indonesia sudah memiliki potensi off-taker atau pengguna termasuk industri semen yang tersebar di 31 kota/kabupaten di 15 provinsi dan PLTU di 47 kota/kabupaten di 26 provinsi.  []

Penulis: Ahmadi Supriyanto

Author: Ahmadi

Related posts

Lonjakan Sampah Lebaran Kembali Jadi Pola Tahunan di Kota Bandung

Gubernur Pramono Ungkap Penyebab Tumpukan Sampah Usai Lebaran di Jakarta

Pemkot Denpasar Maksimalkan Penanganan Sampah Organik di Kawasan Wisata Sanur