Penerapan Ekonomi Sirkular di Industri Masih Minim

oleh Ahmadi

Share via
  • Hambatan penerapan ekonomi sirkular karena masih mahalnya teknologi pengolahan limbah.

envira.id, Jakarta—Ekonomi sirkular di Indonesia sejauh ini masih bersifat imbauan, belum menjadi kewajiban dan hanya dijalankan secara kerelawanan. Padahal, kalau kegiatan kerelawanan itu diakumulasikan akan berdampak cukup signifikan bagi penerimaan negara.

“Terutama terhadap sektor industri, termasuk industri baja akan berdampak signifikan terhadap penerimaan negara,” kata pakar ekonomi lingkungan IPB University Eka Intan Kumala Putri, Rabu (13/3).

Eka mengingatkan, penerapan ekonomi sirkular berdampak positif terhadap komitmen pemerintah mengurangi emisi gas rumah kaca sehingga penerapan ekonomi sirkular dapat mendukung program net zero emission.

Salah satu industri padat kapital yang telah menerapkan ekonomi sirkular adalah PT Gunung Raja Paksi. Perusahaan ini menghasilkan green aggregate dari slag grinding. Produk ini bisa dimanfaatkan di berbagai bidang seperti konstruksi jalan, industri batako dan paving block, beton ready mix, dan beberapa produk lainnya.

Menurut Eka, industri baja yang telah menerapkan green aggregate dari slag grinding bisa dikategorikan telah menerapkan ekonomi sirkular sebab telah mendaur ulang limbahnya lebih dari satu tahap.

“Memang tidak mungkin sampai zero waste. Tetapi prinsipnya, ekonomi sirkular akan meminimalisir waste yang terbuang,” tegasnya.

Penerapan ekonomi sirkular ini selain bisa menambah penerimaan negara, menurut Eka, juga bisa memberikan manfaat lain bagi perusahaan dan lingkungan.

Dari sisi perusahaan, kata dia, akan mendapatkan intangible value dengan pengurangan emisi. Selain itu, produk perusahaan akan mendapat tempat di masyarakat sebagai perusahaan yang sangat peduli lingkungan.

“Kalau perusahaan mendapat ikut proper atau certification, maka dari sisi bisnisnya akan terjamin,” katanya.

Eka mengakui, menerapkan ekonomi sirkular memang tidak mudah, salah satunya karena harga teknologi daur ulang saat ini masih mahal. Namun, ia meyakini, jika penerapan yang makin masif dan disadari pentingnya ekonomi sirukular maka lambat laun harga teknologi akan turun. []

Penulis: Ahmadi Supriyanto

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
Send this to a friend