Peneliti BRIN: Pengelolaan Sampah Masih Diabaikan 

oleh Ahmadi
Ilustrasi-sebuah alat berat sedang membenahi tumpukan di sebuah TPA di Tangerang Selatan. Foto: pexels/@Tom Fisk

Share via
  • Pengelolaan yang masih mengandalkan open dumping memicu masalah lingkungan dan kesehatan.

envira.id, Jakarta—Jumlah timbulan sampah yang semakin banyak terjadi akibat tidak bisanya degradasi sampah secara alami, sehingga terjadi penumpukan.

“Sayangnya pengelolaan saat ini belum mendapatkan perhatian yang serius dari berbagai pihak,” kata Peneliti Ahli dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer—Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sumaryati, dalam keterangan di laman BRIN, Minggu (13/1).

Ia jug mengungkapkan, tidak ada aktivitas manusia yang tidak menghasilkan limbah.

Artinya, sambung dia, Seiring meningkatnya populasi dan aktivitas manusia, meningkat pula jumlah dan ragam limbah yang dihasilkan.

Sumaryati mengungkapkan, berdasarkan riset yang dilakukannya, pengelolaan limbah secara sehat saat ini kurang mendapat perhatian dan belum menjadi prioritas alias tidak ada political will.

“Untuk pengelolaan sampah khususnya perkotaan saja, saat ini masih mengandalkan sistem open dumping,” tandasnya.

Open dumping, sambung Sumaryati, dilakukan karena murah dan mudah. Yakni, daerah yang berbentuk seperti cekungan, jauh dari pemukiman bisa langsung menjadi tempat sampah tempat pembuangan sampah.

Sistem ini, imbuhnya, dapat menciptakan dampak kumuh terhadap lingkungan. Tak cuma itu, open dumping dapat mengancam kesehatan lingkungan yang disebabkan limbah, bau, serta munculnya berbagai vektor penyakit seperti lalat, nyamuk, kecoa, tikus dan sebagainya.

Lebih jauh dikatakan, proses dekomposisi yang terjadi pada sistem open dumping menghasilkan limbah cair yang akan mencemari air dan tanah.

“Selain itu, limbah cair itu menjadi polusi udara yang luar biasa karena penguapan bau ke udara secara terbuka,” jelas dia.

Menurutnya, keadaan tersebut akan lebih parah lagi ketika terjadi kebakaran atau pembakaran.

Sampah, sambung Sumaryati menghasilkan gas metan. Dalam kondisi kering, ketika ada pemicunya akan sangat mudah terbakar dan menciptakan polusi udara yang luar biasa.

Lulusan S2 Teknik Lingkungan ITB itu jugamengingatkan, kebakaran atau pembakaran yang tidak langsung menjadi CO2 sangat berbahaya.

Di atmosfer, sambung dia, semua gas non metan hidrokarbon akan mengalami reaksi yang panjang dan komplek menjadi metan.

“Gas metan mengalami rekasi yang panjang menuju CO, dan terakhir gas CO teroksidasi menjadi CO2. “Ini berdampak bagi lingkungan,” tegas Sumaryati.

Penulis: Ahmadi Supriyanto

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Send this to a friend