OJK: Bursa Karbon Indonesia Terbaik di Asean

oleh Ahmadi

Share via
  • Indonesia menjadi negara yang sangat dipandang internasional atas perdagangan karbon melalui bursa karbon ini, meskipun untuk mendapatkan progres seperti ini tidak mudah.  

envira.id, Jakarta—Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, sampai saat ini, bursa karbon Indonesia jauh lebih baik dibandingkan negara-negara lain bahkan di tingkat ASEAN.

Seperti diketahui, Indonesia telah memulai perdagangan kredit karbon perdananya pada tanggal 26 September 2023.

“Hal ini menjadi catatan sejarah bagi Indonesia karena memiliki misi yang cukup penting,” kata Direktur Pengawasan Bursa Karbon OJK (Otoritas Jasa Keuangan), Aldy Erfanda dalam siaran pers Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLH) seperti dikutip pada Rabu (6/3).

Misi yang dimaksud Aldy adalah menciptakan pasar dalam mendanai pengurangan emisi gas rumah kaca dan menjadi peserta utama dalam perdagangan karbon global.

“Kita terbesar. Pada saat launching volume transaksi terbesar,” tandasnya.

Di samping besaran volumenya, lanjut Aldy, yang perlu dibanggakan dari bursa karbon Indonesia dalah konsep perdagangan karbon yang mengadopsi sistem perdagangan karbon yang paling kompleks di dunia.

“Kenapa paling kompleks? Karena kita memilih proses Cap-Trade-Tax. Artinya,  dilakukan penetapan cap atau allowance– kemudian dilakukan trade artinya perdagangan karbon dan -tax artinya diterapkan  pajak karbon,” jelas dia.

Di negara lain, jelas Aldi, jauh lebih sederhana. Seperti di di beberapa negara tetangga, langsung pengenaan pajak, tidak ada penetapan batas atas, tidak ada fasilitas trading karena tidak ingin rumit.

Ada juga negara lain yang menerapkan yang ada batas atas dan perdagangannya tetapi tidak ada pajaknya.

Sehingga, sambungn Aldy, Indonesia menjadi negara yang sangat  dipandang internasional atas perdagangan karbon melalui bursa karbon ini, meskipun untuk mendapatkan progres seperti ini tidak mudah. Apalagi Indonesia sangat spesifik untuk mencapai target NDC.

Indonesia, melalui Enhanced Nationally Determined Contributions (ENDC) telah meningkatkan ambisinya dalam komitmen pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK).

Semula, target penurunan emisi GRK Indonesia dengan kemampuan sendiri adalah 29%, menjadi 31,89% pada ENDC, sedangkan target dengan dukungan internasional sebesar 41% menjadi 43,20% pada ENDC.

Peningkatan target tersebut didasarkan kepada kebijakan-kebijakan nasional terakhir terkait perubahan iklim, seperti kebijakan sektoral terkait, antara lain FOLU Net-sink 2030, percepatan penggunaan kendaraan listrik, kebijakan B40, peningkatan aksi di sektor limbah seperti pemanfaatan sludge IPAL, serta peningkatan target pada sektor pertanian dan industri. []

Penulis: Ahmadi Supriyanto

 

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?
Send this to a friend