Ngeri, Udara Tangsel Mengandung Polusi Berat: Ancam Kesehatan Warga 

oleh Ahmadi
  • Bukan hanya Tangsel, di Jabodetabek polisi udara meningkat 5-9 persen.

envira.id, Jakarta—Tangerang Selatan menempati peringkat pertama kota paling berpolusi di Indonesia sepanjang bulan Juli 2023.

Peringkat buruk ini dikeluarkan oleh Nafas, salah satu aplikasi pemantau kualitas udara yang dikeluarkan, Kamis (10/8).

Apa yang disandang Tangsel ini bukan perkara main-main, karena konsentrasi PM2.5-nya berada di posisi 60 (µg/m3). Angka ini empat kali lipat melampaui batas aman Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

PM2.5 adalah partikel padat polusi udara berukuran kurang dari 2,5 mikrometer atau 36 kali lebih kecil dari diameter sebutir pasir. Ukuran PM2.5 yang sangat kecil membuat partikel polusi ini tidak dapat disaring oleh tubuh.

Akibatnya, tubuh yang sering menghirupnya dapat menimbulkan  beragam masalah kesehatan seperti kelahiran prematur, asma, batuk dan sesak napas, jantung koroner, diabetes, hingga kanker paru-paru.

Mirisnya, mengacu metode pengukuran berkeleyearth.org, dengan tren yang terjadi di Tangsel itu, diibaratkan warga Tangsel  sehari menghirup 112 batang rokok.

Dalam laporannya, Nafas juga menyebut, angka PM2.5 di Juli itu, bahkan lebih tinggi dibandingkan bulan Juni, yang berada di angka 56. Dengan begitu, kategori kualitas udara Tangsel berwarna merah yang diartikan tidak sehat.

Mirisnya, mengacu metode pengukuran berkeleyearth.org, dengan tren yang terjadi di Serpong, Tangerang, dalam sehari warganya kini seperti menghirup 112 batang rokok.

Sejumlah wilayah di DKI Jakarta juga memiliki risiko yang sama. Cipayung, Jakarta Timur misalnya, Nafas mencatat, konsentrasi PM2.5 yang tinggi membuat warga di sana seperti merokok 95 batang dalam sehari.

Semanan, Jakarta Barat, kualitas udaranya setara dengan menghirup 92 batang rokok. Sementara Cibubur, Jakarta Timur juga memiliki laporan serupa, menghirup udara di wilayah ini seperti berada di lingkungan dengan 91 batang rokok.

“Banyak wilayah di Jabodetabek yang mengalami peningkatan polusi PM2.5 di bulan Juli 2023 ini. Secara rata-rata polusi di setiap kota meningkat sebesar 5-9 persen dari bulan sebelumnya,” demikian laporan Nafas.

Peningkatan polusi PM 2.5 bulan Juli tercatat paling banyak terjadi di Tangerang Selatan nyaris 50 persen. Juara kedua berada di Bekasi dengan 44 persen, disusul Bogor, wilayah yang dikenal masih dipenuhi dengan banyak pepohonan itu juga mencatat konsentrasi PM 2.5 tinggi, kenaikan di bulan Juli mencapai 39 persen.

Di Bogor, ada dua wilayah yang masuk kategori polusi udara tinggi yakni Parung Panjang setara seperti menghirup 99 batang rokok dan warga Gunung Sindur yang sehari-harinya bak bernapas dengan 95 batang rokok di sekitarnya. []

Penulis: Ahmadi Supriyanto

Ahmadi
Author: Ahmadi

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?