Malaysia Protes Kiriman Kabut Asap, Ini Respons Indonesia

oleh Ahmadi

Share via
  • Menurut pantauan satelit Himawari dari BMKG tanggal 7 Oktober 2023, pukul 10.00 WIB, tidak terdeteksi asap lintas batas.

envira.id, Jakarta—Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memastikan terus melakukan upaya maksimal dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan (Kahrutla) di Indonesia.

Penegasan ini disampaikan KLHK setelah Malaysia melayangkan surat protes resmi ke Pemerintah Indonesia tentang kabut asap di negara itu yang  menyebabkan mutu udara di negara itu memburuk. Malaysia juga disebutkan siap bekerja sama dengan pemerintah Indonesia untuk mengatasi masalah ini.

Presiden Joko Widodo juga memberikan respons terhadap protes Malaysia itu dengan memberikan instruksi kepada Panglima TNI, Kapolri serta pemda untuk segera menangani sekecil apapun titik api itu sehingga tidak membesar.

Kepala Negara mengatakan, saat ini suhu udara di Indonesia lebih panas dari suhu normal. Selain itu,  musim kemarau yang panjang juga berpotensi meningkatkan dan memperluas jumlah titik panas di sejumlah daerah.

“Ya, ini memang panasnya itu, kemaraunya itu, panjang dan panasnya memang melebihi dari normal yang ada,” tambahnya.

Namun demikian, Presiden meyakini bahwa pengendalian karhutla saat ini sangat baik jika dibandingkan dengan kebakaran hutan tahun 2015 lalu.

KLH juga mengklaim, penanganan karhutla di Indonesia dari tahun ke tahun semakin baik. Hal ini bisa dilihat dari indikasi luas areal yang terbakar, jumlah hotspot dan data citra sebaran asap.

Meskipun kondisi El-Nino tahun ini lebih kuat dari 2019 dan lebih rendah dibanding El Nino tahun 2015, luas areal yang terbakar berdasarkan data Sipongi KLHK sampai Agustus 2023 hanya sekitar 267 ribu ha, sementara total luas karhutla di tahun 2019 tercatat 1,6 juta ha, dan pada tahun 2015 seluas 2,7 juta ha.

Berdasarkan pantauan satelit pada tahun 2015 dan 2023, jumlah hotspot juga terus menurun. Berdasarkan data satelit Terra/Aqua Nasa confident level >80% jumlah hotspot tahun 2015 sebanyak 70.971 titik, sementara pada tahun ini, sampai 7 Oktober 2023 berdasarkan pantauan Satelit Terra/Aqua (NASA) dengan confident level high hanya sebanyak 7.307 titik.

Dari data citra sebaran asap, pada tahun 2015, sempat terjadi asap lintas batas selama 20 hari, pada tahun 2019 menurut pantauan ASMC diduga terjadi asap lintas batas namun menurut pantauan BMKG tidak terjadi. Di tahun 2023, sampai saat ini (7/10) tidak terjadi asap lintas batas.

Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim, Laksmi Dhewanthi menegaskan berdasarkan pantuan The ASEAN Specialised Meteorological Centre (ASMC) hingga 7 Oktober 2023 pukul 07.00 WIB dan satelit Himawari dari BMKG tanggal 7 Oktober 2023 pukul 10.00 WIB, tidak terdeteksi asap lintas batas, pada saat media briefing di Jakarta (7/10).

“Memang ada terdeteksi asap di Sumsel, Jambi, Kalsel dan Kalteng, tapi dengan arah angin Indonesia yang bertiup dari tenggara ke barat laut—utara, sehingga kemungkinan tidak ada asap lintas negara,” tegas Laksmi. []

 

Penulis: Ahmadi Supriyanto

 

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Send this to a friend