- Edukasi tanpa dukungan infrastruktur, kurang efektif.
- Pesan berbasis kepedulian lingkungan semata, tidak sekuat pendekatan yang menekankan keadilan dan tanggung jawab bersama.
Envira.id, Jimbaran — Konsistensi masyarakat dalam memilah sampah dari sumber menjadi kunci utama pengurangan sampah plastik. Namun, perilaku itu hanya bisa tumbuh jika warga percaya bahwa sistem pengelolaan sampah berjalan adil, transparan, dan benar-benar dikelola hingga tuntas.
Presiden Direktur PT EcoLoop Indonesia, Zul Martini Indrawati, menegaskan hal tersebut dalam seminar bertajuk “Scaling Behavior Change: Plastic Reductions from Local Actions to Policy Pathways” di Le Meridien Jimbaran, Bali, Selasa, 10 Februari 2026.
Berbicara dalam panel “Behavior Change at the Local Level: Innovation from Bali”, Martini menyebut ada tiga syarat agar warga mau konsisten memilah sampah.
Pertama, masyarakat harus mengetahui bahwa sampah yang mereka pilah benar-benar dikelola dengan baik. Kedua, produsen hadir secara nyata melalui skema Extended Producer Responsibility (EPR), bukan sekadar komitmen di atas kertas. Ketiga, praktik memilah berkembang dari tindakan individu menjadi norma sosial di komunitas.
“Ketika memilah sudah menjadi kebiasaan bersama, bukan lagi pilihan pribadi, di situlah perubahan terjadi,” ujarnya.
Menurut Martini, tantangan di Bali bukan terletak pada kurangnya pengetahuan warga, melainkan adanya jarak antara niat dan tindakan sehari-hari.
“Orang-orang tahu mereka harus memilah sampah, tetapi mereka tidak memahami peran mereka dalam sistem, tidak percaya apa yang terjadi setelah pengumpulan, dan tidak menerima insentif atau umpan balik yang jelas. Tanpa kepercayaan dan visibilitas, niat baik tidak diterjemahkan menjadi perilaku yang konsisten,” kata mantan Manager Indonesia Packaging Recovery Organisation (IPRO) tersebut.
Menjawab persoalan itu, Eco Loop memilih pendekatan berbasis perubahan perilaku sekaligus pembenahan sistem, bukan sekadar kampanye satu arah.
Sejumlah langkah dilakukan, antara lain membangun Komunitas BISA, menghadirkan collaborative collection and recycling hubs yang terlihat, terukur, dan terlacak, sehingga warga mengetahui ke mana material mereka dibawa. Selain itu, diberikan pula umpan balik dan insentif bagi masyarakat, serta pembagian tanggung jawab yang jelas antara warga dan produsen.
“Kami memosisikan pemilahan bukan sebagai ‘tugas warga’, tetapi sebagai bagian dari EPR. Warga adalah enabler, bukan penanggung jawab utama,” tegas Martini.
Pendekatan tersebut, lanjutnya, terbukti meningkatkan kepercayaan masyarakat. Praktik pemilahan menjadi lebih stabil, terutama ketika dikaitkan dengan manfaat sosial dan ekonomi lokal.
“Yang terpenting, ada perubahan norma sosial. Memilah menjadi praktik umum, bukan perilaku individu,” katanya.
Meski demikian, Eco Loop juga mencatat sejumlah pembelajaran. Edukasi tanpa dukungan infrastruktur, misalnya, dinilai kurang efektif. Pesan berbasis kepedulian lingkungan semata juga tidak sekuat pendekatan yang menekankan keadilan dan tanggung jawab bersama.
Berkaca dari pengalaman tersebut, Eco Loop ke depan akan berfokus pada strategi scaling with integrity. Strategi ini meliputi kerja sama dengan pemerintah desa untuk menghubungkan praktik pengelolaan sampah di tingkat komunitas dengan kebijakan EPR nasional dan daerah, penguatan sistem EPR serta insentif non-finansial bagi warga, hingga penerapan sistem digital traceability yang sederhana dan inklusif melalui platform Phalawan.
“Selain itu, Eco Loop juga mendorong kolaborasi di tingkat nasional dan regional. Kami bekerja secara intensif di tingkat desa dan bersama-sama mengembangkan role model pengelolaan sumber daya desa yang terintegrasi.” ujar Martini.
Penulis : Eni Saeni
Foto: istimewa