Jangan Serampangan Buang Limbah, Kini Satelit Bisa Mendeteksinya

oleh Envira ID

Share via
  • Metode baru memungkinkan pemantauan lokasi pembuangan limbah plastik ke sungai dan lautan. Penelitiannya pertama kali dilakukan di Indonesia.

envira.id, Jakarta  — Plastik adalah polutan yang berdampak pada planet kita. Saat mencapai lautan, plastik bertahan selama beberapa dekade sebagai limbah. Plastik disebut sebagai sumber kerusakan ratusan spesies, termasuk semua spesies penyu, hampir setengah dari cetacea dan spesies burung laut.

Selain itu, sampah plastik merusak terumbu karang dan ekosistem lainnya. Saat ini, diperkirakan 11 juta metrik ton sampah plastik memasuki lautan setiap tahun, dengan laju yang ditaksir hampir tiga kali lipat pada tahun 2040.  Mungkinkah laju tersebut bisa ditekan?

Penelitian terbaru yang dirilis Eurekalert! pada 18 Januari 2023 menyebutkan adanya sebuah sistem komputasi baru menggunakan data satelit untuk mengidentifikasi lokasi tempat pembuangan limbah. Sistem itu juga menyediakan alat untuk mengungkap lokasi yang mungkin membocorkan sampah plastik ke saluran air.

Caleb Kruse dari Earthrise Media di Berkeley, California, Dr. Fabien Laurier dari Minderoo Foundation di Washington DC, dan rekannya juga mempublikasikan metode ini dalam jurnal akses terbuka PLOS ONE pada tanggal yang sama. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan alat komputasi yang dikenal sebagai neural networks (jaringan saraf) untuk menganalisis data satelit, telah menunjukkan nilai yang besar di bidang penginderaan jauh.

Kruse dan rekannya mengembangkan sistem baru jaringan saraf untuk menganalisis data dari satelit Sentinel-2 Badan Antariksa Eropa dan mendemonstrasikan potensinya untuk digunakan dalam memantau lokasi limbah di darat.

Untuk mengevaluasi kinerja sistem baru, para peneliti pertama kali menerapkannya di Indonesia, di mana mereka mendeteksi 374 lokasi limbah—lebih dari dua kali jumlah lokasi yang dilaporkan dalam catatan publik. Ketika para peneliti merambah semua negara di Asia Tenggara, teridentifikasi total 966 lokasi pembuangan—hampir tiga kali jumlah lokasi yang tercatat secara publik. “Temuan” itu kemudian dipastikan keberadaannya melalui metode lain.

Para peneliti mendemonstrasikan bahwa sistem baru mereka dapat digunakan untuk memantau tempat pembuangan sampah dari waktu ke waktu. Selain itu, mereka menunjukkan bahwa hampir 20 persen lokasi limbah yang dideteksi berada dalam jarak 200 meter dari jalur air. Beberapa diantaranya bahkan terlihat limbahnya tumpah ke sungai yang akhirnya mencapai laut.

Sistem komputasi tersebut, serta temuan lain yang menggunakan sistem itu di masa mendatang, dapat membantu menginformasikan kebijakan pengelolaan sampah dan pengambilan keputusan. Data tersedia untuk umum, sehingga pemangku kepentingan dapat menggunakannya untuk mengadvokasi tindakan dalam komunitas mereka.

Selanjutnya, para peneliti berencana untuk menyempurnakan dan memperluas sistem pemantauan lokasi limbah baru mereka secara global.

Penulis :  Susandijani

 

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?