Ekonomi Sirkular di Lampung Tengah yang Menghidupi Ratusan Petani dan Peternak Lokal

oleh Ahmadi
  • Perusahaan memiliki visi untuk memelihara kehidupan masyarakat dengan makanan berkualitas yang diproduksi dengan cara yang berkelanjutan dan inovatif.

envira.id, Jakarta—Penerapan sustainability saat ini menjadi mandatory yang harus dijalankan oleh perusahaan. Konsep ekonomi sirkular yang menjadi bagian pengelolaan bisnis juga sedang marak digaungkan dan disebarkan di mana-mana.

Namun, bagi Great Giant Foods (GGF), penghasil nanas kaleng dan perkebunan yang terintegrasi dan terbesar di dunia, ternyata sudah lama menerapkan prinsip ekonomi sirkular.

Sebagai penghasil nanas yang siap diolah, GGF juga memproduksi limbah kulit nanas yang juga besar. Bayangkan saja, dalam sehari panen nanas mencapai 2.200-2.500 ton. Dari jumlah itu, 10 persennya adalah kulit nanas. Fakta itulah yang mendorong GGF menerapkan konsep ekonomi sirkular, dengan cara mengolah limbah kulit nanas menjadi pakan ternak.

Demi menunjang ekonomi sirkular, didirikanlah Great Giant Livestock (GGL), yang merupakan perusahaan penggemukan sapi terbesar di Indonesia. Perusahaan tersebut didirikan untuk menampung limbah kulit nanas yang telah diolah menjadi makanan pokok sapi.

Tak hanya penggemukan sapi, sejak 2011, GGL memutuskan untuk memulai pembiakan sapi di Lampung Tengah. Konsep sirkular berjalan cukup baik, sebab dari hasil kotoran sapi itu, diolah lagi menjadi pupuk untuk menyuburkan perkebunan di Lampung.

“Dalam rantai bisnis, kami mengusung konsep ‘produksi tanpa limbah’. Selain itu, kami juga mengembangkan kemitraan dengan petani lokal dengan mengusung konsep Creating Shared Value,” terang, Director PT Great Giant Livestock, Josep Lay, medio April 2023 lalu.

Yan jelas, kata Josep, pihaknya memiliki visi untuk memelihara kehidupan masyarakat dengan makanan berkualitas yang diproduksi dengan cara yang berkelanjutan dan inovatif. Hal ini dibuktikan dengan terus berkembangnya peternakan di Lampung.

Saat ini, sudah ada penggemukkan 17 ribu ekor sapi di GGL. Dalam proses tersebut, GGL juga menggandeng mitra peternak sapi lokal untuk kemudian dibina, dilatih, dan didampingi. Hasilnya cukup besar. Mitra peternak sapi lokal yang telah GGL gandeng, setiap tahunnya dapat menghasilkan 3.000 ekor sapi.

Selain mengembangkan peternakan, GGL juga memberikan pelatihan dengan mendirikan Sekolah Peternakan Rakyat (SPR). Bekerja sama dengan IPB, GGL menjadikan SPR sebagai pusat pembelajaran dan penyuluhan berbasis riset. Sehingga saat ini SPR telah menjadi wadah bagi kelompok tani untuk menambah pengetahuan agar petani Lampung Tengah semakin banyak dan mandiri.

Sebagai perusahaan penggemukan dan pembibitan sapi yang terintegrasi penuh dengan siklus produksi berkelanjutan untuk sumber pakan hingga pemanfaatan limbah, tegas Josep, GGL telah mempekerjakan tenaga profesional lebih dari 600 orang.

GGL juga memiliki program pemberdayaan petani, yang diberi nama Livestock Farmer’s Empowerment Program. Melalui program berkelanjutan itu, GGL menggandeng petani lokal, yang saat ini jumlahnya sudah mencapai lebih dari 400 petani lokal.

Implementasinya, GGL menyediakan lahan perkebunan untuk ditanami petani. Selama proses menanam, memanen, dan memasarkan tersebut, GGL melakukan pendampingan dan pelatihan agar petani dapat memanen buah dengan standar kualitas global. []

Penulis: Ahmadi Supriyanto

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?