Botol Daur Ulang Namasindo Dipamerkan di Program Presidensi G-20

oleh Envira ID

Share via
  • Sejauh ini sampah botol PET  merupakan limbah yang tingkat keterkumpulannya lebih besar dibandingkan dengan sampah plastik lain. Itu terjadi karena di Indonesia ada banyak perusahaan daur ulang yang mengolahnya.

envira.id, Nusa Dua – Botol  plastik hasil daur ulang produksi  Namasindo Plas turut meramaikan “Xendit Pasar Nusa Dua 2”  di Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), Nusa Dua,  Bali,  28 September sampai  2 Oktober 2022.

“Xendit Pasar Nusa Dua 2” adalah sebuah festival yang menampilkan talenta, produk, dan merek terbaik dari Bali dan Indonesia mulai dari makanan, minuman, fashion,  aksesories, sampai pertunjukan seni dan musik.

Dalam event yang merupakan rangkaian program Presidensi  G-20 itu,  antara lain juga disuguhkan  beragam  kegiatan yang mempromosikan sektor ekonomi kreatif dan  usaha ramah lingkungan.

Namasindo sengaja menampilkan salah satu produk unggulannya yaitu botol plastik daur ulang.  “ Yang kami pamerkan  adalah produk  PET recycle B to B.  Used bottles become new bottles, “ kata Corporate Quality Assurance  Manager PT Namasindo Plas, Santi Suryanti.

Di booth Namasindo  para pengunjung juga dapat mengetahui  alur produksi, sejak sampah botol kemasan dikumpulkan sampai diolah kembali menjadi botol.  Santi berharap pengunjung  teredukasi bahwa sampah botol kemasan dapat diolah, didaur ulang, menjadi  botol dengan fungsi seperti semula.

Pengunjung mendapat penjelasan tentang alur proses produksi bottle to bottle dari material bekas kemasan PET di booth Namasindo. Foto: envira.id

“Mengenalkan kepada turis bahwa sampah botol dari material Polyethylene terephthalate (PET)  sekarang dapat diolah dengan tepat.  Menjadi produk  bottle to bottle,  sudah circular economy,” ujar Santi

Edukasi semacam itu, menurut Santi, penting dilakukan karena sampai saat ini masih banyak orang yang beranggapan bahwa sampah botol plastik tak bisa didaur ulang.

“Ada juga  yang anti plastik, yang berpikiran bahwa botol plastik  sebaiknya diganti dengan  botol kaca,” katanya.

Padahal,  kemasan kaca merupakan salah satu material yang sulit didaur ulang  dan memiliki  dampak iklim yang besar, terkait jumlah CO2 dan pemakaian material,  dibandingkan dengan kemasan  plastik.

“Kaca juga perlu waktu lebih panjang untuk  dapat terurai, dibandingkan  plastik PET,” ujar Santi.

Dia menambahkan, sejauh ini sampah botol PET  merupakan limbah yang tingkat keterkumpulannya lebih besar dibandingkan dengan sampah plastik lain. Itu terjadi karena di Indonesia ada banyak perusahaan daur ulang yang mengolahnya.

Namasindo Plas mempunyai tiga pabrik yakni di Solo, Jawa Tengah, Medan, Sumatra Utara, dan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat,  Jawa Barat. Namun hanya pabrik  di Padalarang yang memproduksi botol dari bahan sampah kemasan botol plastik PET.

Perusahaan milik Yanto Widodo itu mampu memproduksi  1.200 ton botol  per bulan. Bahan bakunya, flakes atau cacahan plastik  PET, dipasok oleh mitra antara lain dari Bali, Lombok dan Tangerang, Banten.

Penulis: Eni Saeni.

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Send this to a friend