Sektor Konstruksi Sumbang Emisi Gas Rumah Kaca Cukup Besar

oleh Ahmadi
  • Pelaksanaan konstruksi berkelanjutan adalah kolaborasi Pentahelix antarpemangku kepentingan yang terdiri dari pemerintah, dunia usaha, masyarakat, akademisi dan media.

envira.id, Jakarta—Sektor konstruksi memegang peranan penting dalam mewujudkan target Indonesia menurunkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Pasalnya, aktivitas konstruksi menghasilkan emisi GRK yang cukup signifikan.

Seperti diketahui, Pemerintah berkomitmen untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan menggunakan seluruh sumber daya sendiri atau 41% dengan dukungan serta kerja sama internasional.

 “Untuk itulah, Kementerian PUPR berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon melalui penerapan konstruksi berkelanjutan dan pengembangan infrastruktur hijau yang mensinergikan antara natural system dan engineered solution,” kata Plt Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Jarot Widyoko, dalam sebuah diskusi medio Maret ini.

Implementasinya, kata Jarot, PUPR menerbitkan Instruksi Menteri PUPR Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penggunaan Non Ordinary Portland Cement (Non-OPC) pada Pekerjaan Konstruksi di Kementerian PUPR.

Pasalnya, kata dia, penggunaan semen Non-OPC dapat berkontribusi dalam penurunan emisi karbon serta meningkatkan akurasi spesifikasi material semen sesuai peruntukan pekerjaan konstruksi. “Konstruksi berkelanjutan dapat dilakukan dengan mengutamakan produk lokal, unggulan, dan ramah lingkungan, tegasnya.

Yang jelas, lanjut Jarot, saat ini Kementerian PUPR mendapat tugas besar untuk membangun infrastruktur Ibu Kota Nusantara (IKN) yang mengusung konsep Smart Forest City. Dalam membangun IKN, Kementerian PUPR juga memanfaatkan inovasi teknologi yang mendukung upaya penurunan emisi karbon dan zero waste.

Upaya itu, kata dia, dilakukan melalui Integrated Urban Water Management (IUWM).  dengan mengelola sistem tata air perkotaan, Smart Water Management System terkait dapat menyediakan air minum, daur ulang grey water, serta sistem pemanenan air hujan yang penggunaannya dapat dipantau menggunakan aplikasi. Selain itu juga diterapkan Waste Management Flow dengan mengelola sampah dan limbah di IKN menggunakan Konsep pengelolaan sampah berbasis 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

Lebih jauh Jarot mengatakan, kunci penyelenggaraan konstruksi berkelanjutan adalah kolaborasi Pentahelix antar pemangku kepentingan yang terdiri dari pemerintah, dunia usaha, masyarakat, akademisi dan media.

“Untuk itu, kita perlu bekerja keras dan bekerja sama dan mensinergikan pemakaian material konstruksi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan,” tandas Jarot.  []

Penulis: Ahmadi Supriyanto

Ahmadi
Author: Ahmadi

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?