- Sampah organik ditargetkan tuntas diolah di lingkungan warga, sementara sampah non-organik diangkut sesuai jadwal.
Envira,id, Bandung – Kota Bandung membidik predikat kota juara pilah sampah dengan memindahkan pengelolaan langsung ke tingkat rukun warga (RW), menyusul pengurangan jatah pembuangan ke TPA Sarimukti hingga 300 ton per hari yang berpotensi memicu penumpukan sampah harian di dalam kota.
Kondisi tersebut membuat Pemerintah Kota Bandung harus bergerak cepat mengubah strategi penanganan sampah. Jika sebelumnya pengelolaan masih bertumpu pada tempat pembuangan sementara (TPS), kini penyelesaian didorong langsung dari sumber, yakni rumah tangga dan lingkungan kewilayahan.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, pengurangan ritase sebesar 20 persen menjadi ancaman serius karena berarti ratusan ton sampah berisiko menumpuk setiap hari.
“Sampah kita terancam lagi karena TPA Sarimukti mengurangi jatahnya 20 persen atau sekitar 300 ton. Artinya, kita terancam akan ada tumpukan sampah setiap hari di Kota Bandung sebanyak 300 ton. Maka andalan kita adalah wilayah,” ujarnya belum lama ini.
Menurut Farhan, Bandung ingin menjadi kota pertama yang menerapkan pemilahan sampah langsung dari rumah dan diselesaikan di tingkat RW. Sampah organik ditargetkan tuntas diolah di lingkungan masing-masing, sementara sampah non-organik diangkut sesuai jadwal.
“Bandung harus jadi kota pertama yang melakukan pemilahan dari rumah dan di RW. Karena kita mulai mau menerapkan sistem: sampah hari ini habis hari ini,” katanya.
Untuk menjalankan skema tersebut, Pemkot mengandalkan program Gaslah atau Petugas Pengolah dan Pemilah Sampah sebagai garda terdepan di lapangan. Para petugas membantu warga memilah sekaligus memastikan proses pengolahan berjalan konsisten di tiap wilayah.
Meski belum semua RW memiliki fasilitas pengolahan, pemerintah menyiapkan dukungan sementara melalui penampungan di kelurahan, bantuan petugas, pemanfaatan maggot plasma, hingga sentralisasi di lokasi yang memiliki lahan memadai.
Di Kelurahan Sadang Serang misalnya, dari 21 RW diperkirakan muncul sekitar 525 kilogram sampah organik per hari, jika tiap RW menghasilkan 25 kilogram. Seluruh sampah tersebut ditargetkan diolah menjadi kompos.
Farhan memastikan kompos hasil olahan warga akan diserap sepenuhnya oleh pemerintah kota. “Jangan khawatir, kompos 100 persen akan diambil oleh Pemkot asal diinformasikan. Kompos ini sangat berguna,” ujarnya.
Melalui pendekatan berbasis RW dan pelibatan aktif warga, Bandung menargetkan sistem pengelolaan sampah yang lebih mandiri, cepat, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat posisinya sebagai kota percontohan dalam gerakan pilah sampah dari sumber di Indonesia.
Penulis : Eni Saeni