- Penggunaan pati singkong dapat meningatkan pendapatan petani dan sekaligus dapat berperan penting menjaga lingkungan.
envira.id, Jakarta—Negara-negara Asia Pasifik Economic Cooperation (APEC) didorong berkolaborasi untuk memperkuat ekosistem bioplastik. Kerja sama ini dimaksudkan sebagai bagian dari upaya mengatasi permasalahan kebocoran sampah plastik ke laut.
“Tren perkembangan plastik semakin ke arah alternatif pengganti plastik terbuat dari bahan terbarukan,” kata CEO Green Tommy Tjiptadjaja, dalam sebuah diskusi Minggu (10/12).
Tommy juga mengingatkan, ancaman sampah plastik terhadap keanekaragaman hayati laut semakin hari terus membesar.
Menurut catatan Tim Nasional Penanganan Sampah Plastik Laut (TKNPSL) tahun 2018, Indonesia menghasilkan 9.975 juta ton sampah plastik. Dari jumlah itu, 270.000—590.000 ton diprediksikan bocor ke laut.
Lebih menyedihkan, sambung Tommy, tingkat daur ulang plastik, menurut data Kementerian Perindustrian tahuan 2022, hanya sebesar 12 persen.
Meningat bahaya kerusakan lingkungan yang bisa ditimbulkan dari timbulan sampah plastik yang bisa bocor ke laut, katanya, Greenhope memperkenalkan teknologi bioplastik. Bahan plastik ramah lingkungan ini dibuat dari pati singkong yang diklaim mudah terurai.
Sedangkan untuk menjaga kualitas bahan baku, pihak Greenhope menggandeng kerja sama dengan kelompok tani singkong di wilayah Jawa Barat.
“Kami tentu melakukan pendampingan ke petani,” tandasnya.
Sejauh ini, Greenhope telah menghasilkan tiga teknologi resin plastik, yakni Oxium (Teknologi addtive), Ecoplas (Bio-based biodegradable), Naturloop (Bio-base compostable). []
Penulis: Ahmadi Supriyanto