Masifkan Penanaman Mangrove, Gubernur Khofifah: Sebagai Sedekah Oksigen

oleh Ahmadi
  • Jawa Timur memiliki kawasan mangrove seluas 27.221 ha atau 48% dari kawasan mangrove di Pulau Jawa.

envira.id, Jakarta—Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak semua pihak untuk terus memasifkan penanaman dan pelestarian mangrove. Pasalnya, dengan menanam mangrove, ekosistem dapat dijaga, oksigen di lingkungan akan meningkat, dan pelestarian alam juga terlaksana.

“Melestarikan mangrove sebagai sedekah oksigen, ini juga bagian dari rehabilitasi ekosistem mangrove kita,” kata Khofifah saat memperingati Hari Mangrove Sedunia di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (26/7).

Ia mengatakan, penggalakkan penanaman mangrove terus dilaksanakan, mengingat fungsi mangrove merupakan cadangan karbon dunia (blue carbon) yang mampu menyimpan karbon 4 kali lebih banyak dari hutan terestrial dan menyerap 20 kali lebih besar emisi CO2 dari hutan tropis.

Lebih lanjut, Gubernur Khofifah menyampaikan, Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang konsisten dalam memperluas ekosistem mangrove. Rehabilitasi ekosistem mangrove merupakan salah satu ikhtiar untuk pelestarian lingkungan yang bisa dilakukan oleh banyak komunitas dan masyarakat luas.

“Saya bersama teman-teman di Pemprov Jatim dan banyak komunitas sering sekali melakukan penanaman mangrove, di banyak even di hampir seluruh wilayah pantai sudah kami lakukan,” tegasnya.

Guna mendorong perbaikan ekosistem mangrove, Gubernur Khofifah telah menerbitkan Surat Edaran yang ditujukan kepada para Bupati/ Walikota, Pimpinan BUMN/BUMD/BUMS serta Lembaga Masyarakat pegiat lingkungan pada tanggal 31 Januari 2022 tentang pelaksanaan rehabilitasi lahan kritis dan ekosistem mangrove di Jawa Timur.

Selain itu, Gubernur Khofifah juga memaksimalkan hilirisasi mangrove guna meningkatkan perekonomian masyarakat Jawa Timur yang ada di pesisir pantai.

“Pengembangan dari hulu ke hilir kita maksimalkan, tujuannya ekonomi masyarakat bisa terangkat dengan tetap memberikan daya dukung alam dan lingkungan. Kalau hilirisasinya sudah jalan, kita bisa melakukan Festival Mangrove,” terangnya.

Untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat dan informasi tentang pentingnya mangrove, Gubernur Khofifah mengungkapkan, Pemprov Jatim telah menyelenggarakan Festival Mangrove sebanyak 4 kali, yaitu di Pasuruan, Sampang, Sidoarjo, dan Trenggalek. Rencana tahun ini akan diselenggarakan Festival Mangrove di Kota Surabaya.

“Banyak penelitian yang mengungkapkan, mangrove mampu menyerap CO2 lebih besar daripada tanaman yang ada di darat, makanya saya selalu mengajak ayo tanam mangrove, ayo sedekah oksigen,” ucapnya.

Khofifah menambahkan, saat ini kontribusi elemen strategis, private sector dan komunitas-komunitas terus bertambah 100% dari seringnya pelaksanaan Festival Mangrove.

“Alhamdulillah, ini berarti kesadaran untuk merawat ekosistem dan daya dukung alam dalam mendukung upaya pengurangan emisi gas dan Net Zero Emisson 2060 semakin meningkat,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan Khofifah, berdasarkan data Dinas Kehutanan, Jawa Timur memiliki kawasan mangrove seluas 27.221 ha atau 48% dari kawasan mangrove di Pulau Jawa, yang menjadikan Jawa Timur merupakan kawasan terluas di antara provinsi lainnya di Pulau Jawa dan Bali.

“Banyaknya pohon mangrove dan luasan rehabilitasi mangrove di Provinsi Jatim setara dengan 48% hutan mangrove se Pulau Jawa. Sehingga, menjadikan Jatim berada di peringkat pertama dengan kawasan mangrove terluas di Pulau Jawa,” katanya.

Sebagai informasi, sejak tahun 2020-2023 tercatat telah dilaksanakan penanaman mangrove di pesisir Jawa Timur oleh para pihak seluas 1.878,53 Ha atau sejumlah 6.749.527 batang bibit mangrove. []

Penulis: Ahmadi Supriyanto

Ahmadi
Author: Ahmadi

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?