Ini Upaya Indonesia Turunkan Emisi Gas Rumah Kaca

oleh Eni Saeni

Share via

Envira.id –  Berbagai proses pengolahan sampah dapat meningkatkan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfir.  Jika kita tidak melakukan apa-apa  atau tetap  melakukan business as usual, maka  emisi GRK dari sektor persampahan akan terus meningkat. Perubahan iklim dan bencana lingkungan pun aka menghadang.

Isu tersebut mengemuka pada webinar Jambore Indonesia Bersih dan Bebas Sampah yang digelar oleh Greeneration, pada 1 September 2022 yang diikuti oleh 300 partisipan.

Direktur Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Diana Kusmastuti,  dalam sambutannya pada acara ini menyatakan jika Indonesia terus melakukan business as usual atau bisnis seperti biasanya,  maka pada 2030, tingkat emisi dari sektor persampahan diperkirakan meningkat tiga kali lipat dari tingkat emisi pada 2010 yakni sebesar 296 metrik ton CO2 atau sebesar 10 persen dari total emisi gas rumah kaca pada 2030.

Komitmen Indonesia mengacu pada Nationally Determined Contributions (NDC) 2020, menargetkan penurunan gas rumah kaca dari sektor persampahan sebesar 0,38 persen pada 2030 dari 296 metrik ton menjadi 285 metrik ton CO2.

Untuk mencapainya,  Rencana Pembangunan Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca di sektor persampahan sebesar 9,4 persen pada 2024, meningkat sebesar 1,6 persen, dibandingkan kinerja penurunanan emisi gas rumah kaca sektor persampahan sebesar 7,8 persen pada 2019.

“Kita harus kolaborasi untuk mencapai target tersebut, peran pemerintah daerah dalam mengelola sampah sangat signifikan begitu juga masyarakat dan para pemangku lainnya,” kata Diana.

Ia menjelaskan, Kementerian PUPR telah membuat mitigasi untuk mendukung penurunan GRK di sektor persampahan, yakni pertama, membangun Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah yang dilengkapi fasilitas penangkap dan pemrosesan gas rumah kaca.

Direktur Jenderal Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Diana Kusmastuti saat menjadi keynote speaker pada webinar Jambore Indonesia Bersih dan Bebas Sampah yang digelar oleh Greeneration, pada 1 September 2022 .

“Hingga 2022, jumlah TPA yang sudah dibangun sebanyak 359 unit TPA. Kita berharap, Pemerintah daerah dapat mengoperasionalkan TPA sesuai prosedur operasional yang benar. Sebab banyak yang tidak melakukan SOP, sehingga TPA yang semula harus dilaksanakan sanitary landfill menjadi open dumping,” kata Diana.

Kedua, mengembangkan pengolahan sampah menjadi sumber energi terbarukan, misalnya melalui  teknologi dengan memproduksi Refused Derived Fuel (RDF), bahan bakar yang dihasilkan dari limbah padat.

“RDF merupakan energi terbarukan yang dapat menjadi alternatif co-firing batu bara di PLTU. Kami  akan menerapkan pengolahan RDF  di TPA Kebun Kongok, Lombok, Nusa Tenggara Barat,” ujar Diana.

Ketiga, membangun  Tempat Pemrosesan Sampah melalui pendekatan 3R (Reuse Reduce Recycle) yakni  TPS 3R (Reduce Reuse Recycle). Melalui TPS 3R, pengelolaan sampah harus memenuhi konsep dasar yakni mengurangi, memilah, memanfaatkan dan mendaur ulang sampah.  Pada periode 2015-2022, Kemen PUPR sudah membangun 921 unit TPS 3R.

Baik TPS3R maupun TPA harus dioperasionalkan sesuai Stantar Operasional (SOP). Agar SOP dapat dijalankan, kata  Diana, Kemen PUPR membuat program voluntary Emission Reduction (VER). Ini sebagai upaya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari proses pengomposan.

“Pelaksanaan VER dapat menjaga aliran udara selama proses pengomposan dan pemantauan terhadap kelembaban dan suhu selama proses pengomposan, sehingga proses aerobic terjadi dan menghambat proses pembentukan gas rumah kaca,” kata Diana. .

Hingga saat ini, pelaksanaan VER di 24 lokasi TPS 3R telah berkontribusi dalam penurunan 1,129 ton CO2 per tahun atau sebesar 0,0004 persen dari total emisi gas rumah kaca dari sektor persampahan. “Memang angkanya masih kecil, tapi jika VER dilaksanakan di 921 TPS 3R dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 0,015 persen<“.

Kembali Diana menandaskan, “Kita harus bersama-sama bergerak dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, hingga masyarakat  untuk kolaborasi  mengolah sampah,” katanya. (Eni Saeni)

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?