Wali Kota Farhan: Persoalan Sampah Harus Tuntas di Tingkat Rumah Tangga

oleh Envira ID
  • Kehadiran petugas pemilah diharapkan mampu memicu partisipasi aktif warga dalam memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari dapur

Envira.id, Bandung  – Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan bahwa pengelolaan sampah di wilayahnya tidak akan pernah tuntas jika hanya mengandalkan sistem pengangkutan dan pembayaran retribusi. Ia menyerukan perubahan paradigma besar-besaran, di mana setiap warga harus memastikan persoalan sampah selesai di sumbernya, yakni dari rumah masing-masing.

​Pernyataan tersebut disampaikan Farhan di hadapan jemaah saat melaksanakan Safari Ramadan ke-10 di Masjid Agung Kota Bandung, belum lama ini. Dalam kesempatan itu, ia mengingatkan bahwa kondisi lingkungan di Ibu Kota Jawa Barat ini sedang berada dalam fase krusial.

​Sejak 14 Januari 2026, Kota Bandung telah ditetapkan dalam status darurat sampah. Status ini membawa Bandung menjadi “kota binaan” di bawah pengawasan langsung pemerintah pusat. Menurut Farhan, pengawasan ini merupakan sinyal bahwa penanganan sampah bukan lagi sekadar isu teknis lokal, melainkan tantangan nasional yang memerlukan langkah konkret.

​”Kota Bandung ini kota binaan, artinya kita diawasi langsung. Pertanyaannya, apa yang sudah kita lakukan? Apakah kita sungguh-sungguh melihat sampah sebagai masalah bersama?” ujar Farhan.

​Wali Kota menyoroti pola pikir masyarakat yang menganggap kewajiban mereka berakhir setelah membayar iuran bulanan. Ia menegaskan bahwa pembayaran retribusi bukanlah legitimasi bagi warga untuk melepaskan tanggung jawab sosial dan etika terhadap lingkungan.

​Menurutnya, pembiayaan sebesar apa pun untuk mengangkut sampah tidak akan pernah cukup jika volume sampah dari hulu tidak ditekan. “Berapapun yang kita bayar untuk menghilangkan sampah dari pandangan mata kita, itu tidak menghilangkan tanggung jawab sosial kita,” ujarnya.

Terkait upaya pemerintah, Farhan menjelaskan peran program Gaslah (Petugas Pemilah dan Pengolah Sampah). Ia mengklarifikasi bahwa Gaslah bukan hadir sebagai solusi teknis untuk menyerap seluruh volume sampah kota secara mandiri. Sebaliknya, program ini dirancang sebagai pemantik untuk mengubah perilaku masyarakat.

​Kehadiran petugas pemilah diharapkan mampu memicu partisipasi aktif warga dalam memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari dapur. Strategi ini menandai pergeseran pendekatan Pemerintah Kota Bandung dari kuratif (menangani dampak) menjadi preventif (mencegah penumpukan).

​Menutup arahannya, Farhan menyatakan akan memperkuat sosialisasi melalui pendekatan keagamaan dengan menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI). Para kiai, dai, hingga pengurus masjid akan dilibatkan untuk menyuarakan pesan pengelolaan sampah dari mimbar-mimbar dakwah, terutama selama bulan Ramadan.

​”Sampah tidak selesai karena kita mampu membayar biaya angkut. Sampah selesai ketika kita mengubah pola pikir dari sekadar membayar agar hilang dari pandangan, menjadi bertanggung jawab sejak dari rumah,” katanya.

Penulis: Eni Saeni

 

 

Envira ID
Author: Envira ID

Envira ID adalah situs web yang menyajikan informasi tentang lingkungan, utamanya masalah persampahan di Indonesia.

Berita Terkait

Tinggalkan Komentar

Are you sure want to unlock this post?
Unlock left : 0
Are you sure want to cancel subscription?