Luhut Akui Urusi Sampah di Bali Pekerjaan Sulit

Ilustrasi-Sampah siap diolah dalam mesin Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Bantargebang. Tiap harinya akan diolah 2.000 ton sampah yang akan menghasilkan 700 – 750 ton/hari, bahan bakar serupa batu bara. Foto: IG/Dinas LH DKI Jakarta.

  • Dengan teknologi RDF, persoalan sampah, khususnya di TPA Suwung, Denpasar akan segera selesai.

envira.id, Jakarta—Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menkomarves) Luhut Binsar Pandjaitan meminta pemerintah daerah di Bali segera menyelesaikan masalah sampah di wilayahnya masing-masing.

Luhut mengakui, selama 10 tahun menjadi menteri, mengurus masalah sampah di Bali merupakan pekerjaan tersulit. 

“Selama karier perjalanan 10 tahun saya di sini itu ya ngurus sampah, betul-betul ngurus sampah, saya tobat-tobat mengurus sampah ini, aduh ampun,” katanya saat rapat koordinasi Bali International Airshow 2024.

Karena saat ini sudah ada teknologi mengolah sampah menjadi refuse derived fuel (RDF), menurut Luhut, pemda bisa mengolah sampahnya dengan lebih baik.

Ia meyakini dengan terus membaiknya pengolahan sampah dan hasil bahan bakar RDF di tempat pengolahan sampah terpadu (TPST), maka persoalan sampah khususnya di TPA Suwung Denpasar akan segera selesai.

Dari pantauan langsung, sambung Luhut, ia melihat saat ini lalu lintas truk pengangkut sampah ke TPA Suwung mulai berkurang. Artinya, sudah mulai ada peningkatan pengolahan sampah berkat hasil RDF yang membaik.

Target pemerintah setahun ke depan, katanya,  sampah di Bali dapat berkurang banyak, dan dalam dua tahun Bali sudah bersih terutama area KEK Kura-kura Bali yang dilalui TPA Suwung dapat diperbaiki.

Khusus untuk pelaksanaan pameran kedirgantaraan internasional Bali International Airshow 2024, Menkomarves meminta pemerintah daerah memaksimalkan pemberdayaan RDF dan sementara tidak membuang sampah ke TPA Suwung. []

Penulis: Ahmadi Supriyanto

Author: Ahmadi

Related posts

Komunitas BISA Gelar Beach Clean-up, Ratusan Relawan Bersihkan Pantai Kelan

Kolaborasi Dengan Toyamas, Desa Kutuh Luncurkan Air Minum Ramah Lingkunan

Lonjakan Sampah Lebaran Kembali Jadi Pola Tahunan di Kota Bandung