- Sampah organik sisa dapur dapat dikubur atau ditimbun tanah agar terurai alami, sementara sampah anorganik perlu dipilah dan disalurkan ke bank sampah untuk didaur ulang.
Envira.id, Kuta Selatan — Meski baru berdiri dan struktur organisasi belum sepenuhnya lengkap, Komunitas Bersih Itu Sederhana Aja (BISA) langsung tancap gas. Komunitas yang berfokus pada edukasi pengelolaan sampah dari sumbernya ini, mulai berbagi pengetahuan kepada pelajar tentang praktik pengelolaan sampah berbasis metode 3R (Reduce, Reuse, Recycle).
Edukasi tersebut diberikan kepada 22 siswa SMAN 1 Kuta Selatan saat kunjungan studi lapangan ke TPST Tebo Kauh, Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, Sabtu pagi, 28 Februari 2026.
Kunjungan itu merupakan bagian dari tugas sekolah. Para siswa diminta mengobservasi langsung pengelolaan sampah di TPST, mulai dari jenis sampah yang masuk, proses pemilahan dan pengolahan, hingga teknologi yang digunakan. Hasil pengamatan tersebut kemudian dianalisis untuk melihat praktik mana yang bisa diterapkan guna mengatasi persoalan sampah di lingkungan sekolah.
Direktur Bumdes Manik Sedana Desa Kutuh, Kadek Naradipa Putra menyemangati para siswa SMA yang melakukan studi lapangan ke TPST Tebo Kauh.
Sebelum observasi lapangan dimulai, para siswa terlebih dahulu mendapat pembekalan dari Komunitas BISA mengenai kiat-kiat sederhana mengurangi timbulan sampah, baik di rumah maupun di sekolah.
Co-Founder Komunitas BISA, Eni Saeni, menekankan pentingnya pencegahan sejak awal dengan mengurangi penggunaan barang sekali pakai, khususnya plastik.
“Sebisa mungkin tekan timbulan sampah dengan menghindari kemasan sekali pakai. Misalnya membawa totebag sendiri saat berbelanja,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pengelolaan sampah organik bisa dimulai dari kebiasaan kecil, seperti tidak menyisakan makanan.
“Untuk mengurangi sampah organik, yang sederhana saja, jangan menyisakan makanan,” tambahnya.
Jika sampah sudah terlanjur dihasilkan, menurut Eni, penanganannya harus disesuaikan dengan jenisnya. Sampah organik sisa dapur dapat dikubur atau ditimbun tanah agar terurai alami, sementara sampah anorganik perlu dipilah dan disalurkan ke bank sampah untuk didaur ulang.
“Jadi harus dipilah antara organik dan anorganik. Sampah anorganik bisa disetor ke bank sampah, lalu dibawa ke pabrik daur ulang,” katanya.
Sementara itu, Direktur Bumdes Manik Sedana Desa Kutuh, Kadek Naradipa Putra, mengakui TPST Tebo Kauh saat ini belum sepenuhnya mampu menuntaskan seluruh timbulan sampah yang mencapai sekitar 15 ton per hari. Sebagian sampah masih harus dimusnahkan menggunakan insinerator.
Meski demikian, ia optimistis persoalan tersebut dapat diatasi secara bertahap.
Pihaknya kini menggandeng perusahaan swasta PT Eco Loop untuk mengoptimalkan pengolahan sampah organik.
“Mungkin tiga atau empat tahun mendatang, semua sampah organik bisa diolah, sehingga tidak ada yang dibakar atau dibuang keluar desa,” ujarnya.
Ia menambahkan, edukasi pemilahan sampah menjadi kunci keberhasilan sistem tersebut. Karena itu, kolaborasi antara Bumdes dan Eco Loop juga mencakup program edukasi yang dijalankan bersama Komunitas BISA.
Saat ini, Komunitas BISA tengah merekrut relawan yang akan dilatih menjadi mentor atau fasilitator. Para mentor tersebut nantinya diterjunkan ke sekolah-sekolah untuk mengedukasi siswa mengenai pengelolaan sampah dari sumber melalui pendekatan 3R.
Untuk sementara tercatat lebih dari dua puluh orang mahasiswa telah mendaftar menjadi relawan Komunitas BISA. Beberapa pemuda Desa Kutuh juga menyatakan siap bergabung.
Penulis : B. Hermawan
Foto: Envira.id