Envira.id, Pamulang – Krisis pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah Cipeucang tidak hanya merusak lingkungan dan kesehatan, tetapi juga melumpuhkan usaha kecil, pembuat tempe, di sekitarnya.
Seperti ramai diberitakan media, dipicu oleh luapan sampah yang menyebabkan banjir lindi, warga Kampung Curug ,Serpong, menggelar aksi demonstrasi menuntut penutupan TPA Cipeucang, Senin lalu
Di balik desakan kuat penutupan TPA itu terdengar suara lirih para perajin tempe yang terdampak. Banjir lindi menyebabkan mereka tak bisa berproduksi sehingga rugi hingga puluhan juta rupiah.
”Kerugian ya lumayan, puluhan juta. Tempat produksi kami sudah tidak bisa dipakai,” kata Kristianto, seorang perajin tempe yang telah 11 tahun beroperasi di dekat TPA Cipeucang.
Ia menyebut kondisi ini sebagai kelalaian fatal dari instansi yang mengurus sampah. “Ini bukan dinas lingkungan hidup, tapi dinas lingkungan mati,” ujarnya.
Di tengah desakan penutupan TPA, Pemkot Tangsel justru mengungkapkan rencana anggaran Rp50 miliar untuk pembebasan lahan perluasan landfill.
”Dalam waktu dekat empat ribu meter lahan dibebaskan. Sisanya total sekitar tiga hektare tahun depan,” ujar Sekretaris DLH Tangsel, Hadi Widodo, baru-baru ini.
Warga menilai kebijakan ini “tidak nyambung “, tidak menjawab kedaruratan yang mereka hadapi saat ini.
“Keruk dulu longsoran sampahnya. Biar aliran air lancar. Rumah kami kebanjiran lindi ,” kata Agus (60), warga terdampak. Ia bilang, prioritas utama Pemkot Tangsel adalah perbaikan lingkungan segera, bukan penambahan kapasitas tampung sampah.
Enam Tuntutan Mendesak Warga Curug Serpong:
Sebagai respon atas kegagalan pengelolaan TPA yang mengakibatkan banjir, bau busuk, ancaman kesehatan, dan kerugian ekonomi, warga menyampaikan enam tuntutan kepada Pemkot Tangsel:
- Penutupan TPA Cipeucang per hari Senin, 8 Desember 2025.
- Normalisasi saluran air kali seperti kondisi semula.
- Perapihan sampah di sekitar rumah yang terdampak sampah.
- Alat berat standby untuk perapihan saluran air dan rumah warga.
- Penanganan lindi dan bau sampah.
- Dampak kesehatan dan kompensasi warga yang terdampak.
Warga mewanti-wanti bila tuntutannya diabaikan, mereka siap menggelar aksi lanjutan dengan jumlah massa lebih besar.
(Eni Saeni/ berbagai sumber)