ASEAN Perkuat Kerja Sama Atasi Polusi Plastik

Ilustrasi-sampah botol-botol plastik sekali pakai. Foto: pexels

  • ASEAN didorong untuk melakukan kajian dampak ekonomi yang menyeluruh khususnya terkait dengan keberadaan industri plastik di negara berkembang.

envira.id, Jakarta—ASEAN dapat menjadi episentrum pertumbuhan inklusif pengelolaan plastik yang memberikan dampak positif pada beberapa aspek penting yaitu peningkatan kualitas lingkungan, peningkatan aspek ekonomi dan sosial melalui penerapan konsep ekonomi sirkular.

Peran penting ASEAN ini bisa menjadi bagian dari solusi yang dihadapi dunia dalam mengatasi masalah lingkungan yang berat, yakni polusi dan pencemaran, selain perubahan iklim.

United Nation on Environmental Assembly (UNEA) sejak tahun 2022 sudah mulai melakukan negosiasi untuk menyusun Internasional Legally Binding Instrument (ILBI) untuk mengatasi polusi plastik. Negara-negara ASEAN di bawah koordinasi ASEAN Secretariat, terus bekerja bersama-sama mengatasi persoalan lingkungan hidup.

Hal ini disampaikan ASEAN Senior Official on Environment (ASOEN) atau National Focal Point (NFP) Indonesia Ary Sudijanto dalam kapasitasnya sebagai Kepala Badan Standardisasi Instrumen LHK.

Dalam kesempatan itu, Ary memimpin pertemuan ASEAN Coordination Meeting on Intergovernmental Negotiating Committee (INC) Plastic Pollution pada 16 Oktober 2023. Pertemuan dimaksudkan untuk mengidentifikasi commonalities terkait plastic pollution.

Ary mengatakan, berdasarkan pengalaman Norwegian Institute for Water Research (NIVA), yang memiliki keahlian dan pengalaman di bidang penanganan polusi plastik, menyampaikan, zero draft on plastic pollution yang mencakup upaya dan kendali yang harus dilakukan mulai dari hulu, tengah, dan hilir proses.

Sedangkan, tantangan yang akan bakal dihadapi adalah fasilitas dan infrastruktur pengumpulan sampah plastik dan bagaimana bisa menjangkau seluruh wilayah terkecil (desa dan kecamatan).

“Dari sisi produsen, perlu prioritas kelompok produsen yang wajib menerapkan Extended Producer Responsibilities (EPR). Instrument EPR, antara lain standar kemasan dan perdagangan plastik,” kata Ary.

Lebih lanjut Ary mengatakan, pada pertemuan itu didorong ASEAN untuk melakukan kajian dampak ekonomi yang menyeluruh khususnya terkait dengan keberadaan industri plastik di negara berkembang sebagai bagian dari pembangunan.

Selain itu, menurut Ary, perlu pula kejelasan di beberapa aspek teknis, seperti lingkup pencemaran plastik, bahan aditif plastik terkait microplastic dan nanoplastik, chemical yang digunakan pada proses produksi, penggunaan single use plastic dan isu EPR. []

Penulis: Ahmadi Supriyanto

 

Author: Ahmadi

Related posts

Komunitas BISA Gelar Beach Clean-up, Ratusan Relawan Bersihkan Pantai Kelan

Kolaborasi Dengan Toyamas, Desa Kutuh Luncurkan Air Minum Ramah Lingkunan

Lonjakan Sampah Lebaran Kembali Jadi Pola Tahunan di Kota Bandung