Envira.id, Jakarta — Sebagai wadah baru bagi industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) , Perkumpulan Usaha Air Minum Dalam Kemasan Nusantara (AMDATARA) akan melakukan kerja-kerja kolaboratif, eksklusif dan progresif untuk memperkuat ekosistem AMDK di Indonesia. “ Amdatara adalah rumah yang inklusif, kolaboratif, dan siap mendukung Indonesia menjadi lebih baik,” kata Ketua Umum Amdatara, Karyanto Wibowo, dalam sambutanya pada deklarasi perkumpulan baru itu, di Hotel JS Luwansa, Jakarta pada Selasa, 16 Desember 2025
Karyanto menuturkan saat ini industri AMDK dihadapkan pada berbagai tantangan, antara lain, kebijakan air dan regulasi Pemerintah yang mewajibkan industri AMDK mengikuti standar dan kepatuhan, antara lain terkait dengan pendistribusian dan pengangkutan produk hingga isu lingkungan. “ Berdirinya Andatara menjadi babak baru bagi pelaku industri AMDK untuk terus adaptif terhadap tren, kebijakan, regulasi hingga isu lingkungan,” ujarnya
Amdatara beranggotakan lebih dari 80 industri AMDK, mulai dari perusahaan multinasional, nasional, lokal, hingga BUMD, mayoritas dari Jawa Barat, DKI, Banten. “Kita akan perkuat dengan masuknya industri AMDK dari di Jawa Tengah, Jawa Timur dan luar Jawa,” tambah Karyanto.
Di Indonesia saat ini terdapat lebih dari 700 perusahaan AMDK dengan lebih dari 2.000 merk. Kapasitas produksinya mencapai 47 miliar liter per tahun, menyerap 46.000 orang tenaga kerja. Nilai pasarnya mencapai puluhan triliun per tahun, tumbuh rata -rata dari 5 sampai 8 persen per tahun.
Karyanto menjelaskan, dalam 100 hari program kerjanya, Amdatara dihadapkan pada beberapa isu penting, antara lain terkait Surat Edaran (SE) Gubernur Bali No. 9 Tahun 2025 tentang Gerakan Bali Bersih Sampah, yang melarang produksi, distribusi, dan penjualan air minum kemasan plastik (AMDK) ukuran di bawah 1 liter dan pelarangan pengaangkutan AMDK dengan truk besar di Jabar.“Kita patuh terhadap regulasi, sehingga industri kita akan terus maju dan berkembang,” katanya.
Deklarasi berdirinya Amdatara ini dihadiri oleh pelaku industri AMDK dari seluruh Indonesia, mulai dari DKI Jakarta, Bogor, Depok, Banten, Bandung, Subang, Yogyakarta, Semarang, Surabaya hingga luar Jawa.
Dewan Pakar
Amdatara mengangkat Dewan Pakar yang terdiri dari pakar ternama yakni ahli air tanah dari Departemen Teknik Geologi Universitas Gadjah Mada; Heru Hendrayana, Diana Sunardi, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia sebagai ahli hidrasi; Nugraha Edhi Suyatma, dari Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor sebagai ahli kemasan pangan; serta Ahmad Sulaeman, M.S dari Departemen Gizi Masyarakat Institut Pertanian Bogor sebagai ahli nutrisi.
Selain itu, Amdatara memberi penghargaan kepada Pris Polly Lengkong, Ketua Umum Ikatan Pemulung Indonesia, dan Erik Garnadi, Ketua Umum Asosiasi Depot Air Minum Isi Ulang Indonesia (ASDAMINDO) sebagai anggota kehormatan. Keduanya dinilai telah berkontribusi dalam mendukung ekosistem industri air minum kemasan di Indonesia.
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau, dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian, Ir. Merrijantij Punguan Pitaria, M.Si., menilai industri AMDK memiliki efek ganda yang luas bagi perekonomian.
“Efek ganda keberadaan industri AMDK sangat luas dan berdampak positif terhadap tumbuhnya sektor perekonomian lainnya seperti jasa transportasi, penjualan ritel, dan industri pendukung lainnya. Kami memberikan apresiasi yang sebesar-besarnya kepada para pelaku usaha industri AMDK,” katanya.
Merrijantij menyatakan, Amdatara memiliki peran strategis dalam menyinergikan pelaku industri dengan kebijakan pemerintah. “Melalui kolaborasi yang konsisten, kita dapat mendorong transformasi menuju industri yang berkelanjutan, berdaya saing, dan memberi manfaat bagi masyarakat,” kata dia.
Penulis Eni Saeni