- Relawan tidak hanya mengumpulkan sampah, tetapi juga melakukan brand audit
Envira.id, Badung –Suara langkah ratusan relawan yang terdiri dari siswa sekolah, mahasiswa, dan pemerhati lingkungan memecah kesunyian Pantai Kelan, Kecamatan Kuta, Badung, Jumat pagi, 24 April 2026.
Tiba di lokasi menjelang matahari terbit, mereka bergegas melakukan aksi beach clean-up. Diinisiasi oleh Komunitas Bersih Itu Sederhana Aja (BISA), para relawan menyisir Pantai Kelan, mulai dari sisi utara yang berdekatan dengan Bandara Ngurah Rai hingga ke ujung selatan di perbatasan Pantai Kedonganan.
Komunitas BISA merupakan wadah anak muda peduli lingkungan yang berbasis di Desa Kutuh, Kuta Selatan. Fokus utama komunitas ini adalah edukasi pengelolaan sampah dari sumbernya, khususnya menyasar generasi muda di sekolah-sekolah.
Aksi di Pantai Kelan ini merupakan program “tambahan” komunitas BISA untuk merespons situasi darurat sampah di Bali. Selain kewalahan mengelola timbulan sampah yang ada, Pemprov Bali juga mesti menghadapi masalah sampah pesisir
Isu sampah pantai di Pulau Dewata memang kembali menjadi perhatian publik menyusul arahan tegas Presiden Prabowo Subianto dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) di Sentul, Februari lalu, yang meminta seluruh pihak bergerak serentak membersihkan pesisir Bali.
”Kami melakukan beach clean-up bukan karena latah, tapi ini bagian dari upaya konsisten kami untuk menangani masalah sampah pantai yang nyata di depan mata,” ujar Founder Komunitas BISA ,Dr. Soendoro Soepringgo.
Aksi berlangsung dalam suasana riang. Peserta dibagi menjadi tiga kelompok untuk menyisir zona yang telah ditentukan secara estafet dari arah utara dan mengumpulkan temuan sampah di ujung selatan pantai.
Sejumlah instansi turut ambil bagian, di antaranya mahasiswa Poltekpar Bali, siswa SMP 3 Kedonganan, Kuta, siswa SMA 1 Kuta Selatan, serta para pegiat lingkungan.
Direktur Poltekpar Bali, Ida Bagus Putu Puja, yang hadir di lokasi, mengapresiasi langkah nyata ini sebagai media pembelajaran di luar kelas.
”Ini pembelajaran yang baik. Jadi bukan hanya di pantai, tapi di rumah, di kampus, dan sekolah kita harus bisa mengelola sampah,” tegasnya.
Menariknya, relawan tidak hanya mengumpulkan sampah, tetapi juga melakukan Brand Audit. Mereka memilah sampah ke dalam beberapa kategori seperti botol plastik, gelas plastik, saset, sedotan, alat makan plastik, kaleng, hingga styrofoam.
Data audit ini nantinya akan digunakan untuk mendorong tanggung jawab produsen atas sampah kemasan yang mereka hasilkan.
Penulis : Eni Saeni