- Empat wilayah telah menyelesaikan proses lelang dan ditargetkan memulai pembangunan pada Maret mendatang, yakni Denpasar, Yogyakarta, Bogor, dan Bekasi.
Envira.id, Surabaya – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menilai Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) menjadi salah satu solusi utama untuk meredam kondisi darurat sampah yang kian mengkhawatirkan di berbagai daerah, terutama di kota-kota besar dengan timbulan sampah tinggi.
Salah satu contoh penerapannya terlihat di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo, Surabaya, Jawa Timur, yang setiap hari menerima sekitar 1.500 ton sampah dari seluruh wilayah kota.
“PSEL adalah salah satu alternatif pengelolaan sampah. Kalau sampah tidak dikelola, akan menjadi masalah besar. PSEL di TPA Benowo merupakan langkah untuk mengatasi timbulan sampah yang cukup besar. PSEL lah yang menjadi pilihan,” kata Kepala Bidang Wilayah III Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa KLH/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Gatut Panggah Prasetyo, di Surabaya, seperti dikutip Antara baru – baru ini.
Menurutnya, tanpa teknologi pengolahan seperti PSEL, timbunan sampah berisiko terus menggunung, memperluas area TPA, serta membahayakan keselamatan dan kesehatan masyarakat sekitar.
“Kalau tidak diolah, gunung sampah akan semakin tinggi dan meluas. Ini bisa berdampak pada lingkungan dan kesehatan. PSEL memang diperuntukkan bagi wilayah dengan timbulan sampah lebih dari 1.000 ton per hari,” ujarnya.
TPA Benowo sendiri menjadi pionir fasilitas PSEL di Indonesia. Instalasi yang diresmikan pada 2021 tersebut kini tidak hanya mengurangi volume sampah secara signifikan, tetapi juga mengubahnya menjadi energi listrik, sehingga memberi nilai tambah dari limbah yang sebelumnya hanya ditimbun.
Sebelumnya, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menegaskan pembangunan PSEL di berbagai daerah menjadi bagian dari strategi nasional pengendalian sampah.
“Kami mendorong pembangunan PSEL di sejumlah aglomerasi agar timbulan sampah bisa ditangani langsung di sumbernya dan tidak lagi menumpuk di TPA,” ujar Hanif dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI di Jakarta.
Ia menyebut sedikitnya empat wilayah telah menyelesaikan proses lelang dan ditargetkan memulai pembangunan pada Maret mendatang, yakni Denpasar, Yogyakarta, Bogor, dan Bekasi.
Secara keseluruhan, KLH menetapkan 10 wilayah aglomerasi prioritas pengembangan PSEL, meliputi Denpasar Raya, Yogyakarta Raya, Bogor Raya, Bekasi Raya, Tangerang Raya, Medan Raya, Semarang Raya, Lampung Raya, Surabaya Raya, dan Serang Raya.
Presiden dorong percepatan
Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto turut menyoroti serius persoalan sampah nasional. Dalam rapat koordinasi pemerintah pusat dan daerah di Sentul, Bogor, Senin kemarin, ia menegaskan perlunya percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah di berbagai kota.
Presiden mengingatkan kapasitas tempat pembuangan akhir di banyak daerah kian menipis dan diperkirakan penuh dalam beberapa tahun ke depan jika tidak ada terobosan pengolahan.
Penegasan tersebut memperkuat langkah kementerian dan pemerintah daerah agar penanganan sampah tidak lagi berhenti pada penimbunan, melainkan diolah menjadi sumber energi.
Dengan timbulan sampah yang terus meningkat setiap tahun, PSEL dinilai bukan lagi sekadar opsi tambahan, melainkan kebutuhan mendesak untuk mencegah krisis lingkungan yang lebih luas sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi dari limbah.
Penulis : Eni Saeni