- Kompos hasil biopori memenuhi standar, dengan pH netral serta kandungan unsur hara nitrogen dan fosfor yang tergolong tinggi, dan aman untuk pertanian.
Envira.id, Yogjakarta — Lubang biopori jumbo kian memainkan peran penting dalam pengelolaan sampah organik rumah tangga di Kota Yogyakarta. Teknologi sederhana berbasis komunitas ini tidak hanya mampu menekan volume sampah, tetapi juga menghasilkan kompos yang bernilai ekonomi dan mendukung pertanian perkotaan.
Pada 2026, pemanfaatan biopori jumbo diperluas untuk meningkatkan kapasitas pengolahan sampah organik di tingkat warga. Dengan penambahan ratusan unit baru, jumlah biopori jumbo yang beroperasi di Kota Jogja ditargetkan mencapai sekitar 1.000 unit. Setiap biopori jumbo diperkirakan mampu mengolah hingga dua ton sampah organik.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menyebut, jika biopori jumbo dimanfaatkan secara optimal, daya tampungnya berpotensi menahan sekitar 2.000 ton sampah organik yang selama ini berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA).
“Kalau ada seribu biopori jumbo, secara teoritis bisa menahan sekitar 2.000 ton sampah. Itu jumlah yang sangat besar untuk mengurangi beban sampah kota,” kata Hasto.
Sampah organik rumah tangga yang dimasukkan ke dalam biopori jumbo diproses secara alami menjadi kompos. Untuk mempercepat proses pengomposan, pemerintah daerah memberikan dukungan berupa penyediaan aktivator serta bantuan tenaga panen kompos yang membutuhkan keahlian khusus.
“Hasil komposnya bisa dimanfaatkan sendiri atau dijual. Pemerintah tidak mengambil hasilnya, sepenuhnya untuk masyarakat,” ujar Hasto.
Selain berfungsi sebagai solusi pengurangan sampah, biopori jumbo juga menghasilkan manfaat ekonomi. Kompos dari sampah organik memiliki nilai jual hingga Rp1.000 per kilogram. Dengan demikian, pengelolaan sampah melalui biopori tidak hanya menekan residu, tetapi juga mendorong kemandirian ekonomi warga.
Pemanfaatan biopori jumbo terintegrasi dengan Integrated Farming Program serta pembangunan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPO). Pada 2026, tiga sentra UPO dibangun di kawasan Pasar Pasty, Tegalgendu, dan Tegalrejo untuk mendukung pemanfaatan kompos dalam kegiatan pertanian perkotaan.
Kompos hasil biopori juga dimanfaatkan untuk mengembangkan pertanian lorong atau lorong sayur, terutama di kawasan padat penduduk. Konsep ini memungkinkan warga menanam sayuran dan buah meski dengan keterbatasan lahan.
“Lorong sayur efektif memanfaatkan ruang sempit dan membantu mengurangi pengeluaran rumah tangga, terutama untuk kebutuhan pangan,” kata Hasto.
Manfaat biopori jumbo telah dirasakan langsung warga. Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Subur Makmur Lestari Kelurahan Mantrijeron, Sumarsini, mengatakan pemanfaatan biopori jumbo di RW 05 Kampung Mangkuyudan telah berjalan sejak 2021. Warga secara rutin memilah sampah dari rumah, dengan sampah organik dimasukkan ke biopori dan sampah anorganik disalurkan ke bank sampah.
“Sampah organik kami beri tetes tebu dan EM4 supaya cepat terurai. Setelah sekitar enam bulan, bisa dipanen menjadi kompos,” kata Sumarsini.
Kompos hasil biopori jumbo dimanfaatkan untuk budidaya berbagai jenis sayuran dan buah di lorong-lorong kampung. Saat ini, sekitar 100 kepala keluarga di RW 05 telah aktif memanfaatkan biopori jumbo. Dari satu unit biopori, sampah organik yang tertampung bisa mencapai dua ton dengan hasil panen sekitar 550–600 kilogram kompos.
Hasil uji laboratorium menunjukkan kompos tersebut memenuhi standar, dengan pH netral serta kandungan unsur hara nitrogen dan fosfor yang tergolong tinggi dan aman untuk pertanian.
“Komposnya hitam seperti tanah, aman digunakan dan tidak meracuni tanaman,” ujarnya.
Keberhasilan pemanfaatan biopori jumbo di Kampung Mangkuyudan diharapkan dapat direplikasi di wilayah lain sebagai model pengelolaan sampah organik berbasis komunitas yang ramah lingkungan, berkelanjutan, dan berdampak langsung bagi ketahanan pangan serta ekonomi masyarakat.
Penulis : Eni Saeni