Envira.id, Denpasar — – Setelah 25 tahun menjadi ajang penghargaan bagi pelaku industri pariwisata, program Tri Hita Karana (THK) Awards kini didorong bertransformasi menjadi sebuah gerakan untuk menjaga keseimbangan antara pesatnya pertumbuhan industri pariwisata dan keberlanjutan lingkungan hidup di Bali.
Transformasi tersebut mengusung semangat “Dari Awards Menuju Movement”, yang menempatkan filosofi Tri Hita Karana bukan sekadar sebagai indikator penilaian dalam pemberian penghargaan, melainkan sebagai landasan gerakan bersama untuk mewujudkan pariwisata Bali yang harmonis dan berkelanjutan.
Hal itu disampaikan Ketua Yayasan Tri Hita Karana, I Gusti Ngurah Wisnu Wardana, dalam peluncuran buku terbarunya berjudul Etika Pariwisata Global (2026), yang berlangsung dalam seminar secara daring di Institut Pariwisata dan Bisnis Internasional (IPB Internasional), Senin (19/10/2026).
Kegiatan tersebut diikuti mahasiswa program S2, S1, dan D4 institut pariwisata tersebut.
Wisnu mengatakan, setelah melewati perjalanan selama seperempat abad, THK Awards perlu dikembangkan menjadi gerakan yang mampu mendorong seluruh pemangku kepentingan pariwisata untuk berperan aktif menjaga kelestarian Bali.
“Kami berharap para peserta tidak semata-mata mengejar penghargaan (awards), tetapi bergerak agar Bali kembali lestari, aman, dan nyaman. Jadi, penduduk Bali, pendatang, dan wisatawan akan benar-benar menikmati saat tinggal di Pulau Dewata,” ujar Wisnu.
Menurutnya, filosofi Tri Hita Karana yang menekankan keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam merupakan nilai kearifan lokal Bali yang relevan dalam menjawab tantangan pembangunan pariwisata.
Prinsip tersebut menjadi penting ketika perkembangan industri pariwisata perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga keseimbangan sosial, budaya, dan lingkungan hidup.
Kearifan Lokal Bali Mendapat Pengakuan Internasional
Dalam kesempatan tersebut, Wisnu menjelaskan bahwa filosofi Tri Hita Karana telah memperoleh pengakuan internasional melalui organisasi pariwisata dunia di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNWTO.
Pengakuan itu, menurut Wisnu, disampaikan dalam sidang Komite Etik UNWTO di Kroasia pada 26–27 Mei 2015. Selanjutnya, pada 23 Agustus 2015, Yayasan Tri Hita Karana menerima surat pengakuan internasional tersebut.
Pengakuan itu menjadi salah satu landasan untuk memperkenalkan nilai-nilai Tri Hita Karana secara lebih luas dalam pengembangan etika pariwisata global.
Melalui buku Etika Pariwisata Global, Wisnu menguraikan hubungan antara filosofi Tri Hita Karana dan Global Code of Ethics for Tourism (GCET), yakni pedoman etika global yang menjadi acuan dalam pengembangan pariwisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Buku tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana kearifan lokal Bali dapat memberikan kontribusi terhadap penerapan prinsip-prinsip etika dalam industri pariwisata internasional.
Wisnu mengingatkan bahwa Tri Hita Karana bukan konsep baru dalam pembangunan Bali. Filosofi tersebut telah ditetapkan Pemerintah Provinsi Bali sebagai landasan pembangunan daerah sejak 1969.
Dari Penghargaan Menuju Gerakan Bersama
Wisnu yang pernah menjabat sebagai Sekretaris Himpunan Penulis Pariwisata (HPP) Bali pada era 1980-an mengungkapkan bahwa program THK Awards pertama kali diluncurkan pada 2000.
Program tersebut digagas bersama sejumlah wartawan pariwisata dan cendekiawan Bali yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya serta nilai-nilai kearifan lokal.
Selama 25 tahun pelaksanaannya, THK Awards terus memberikan penghargaan kepada para peserta yang menerapkan prinsip Tri Hita Karana, termasuk ketika sektor pariwisata Bali menghadapi tekanan akibat pandemi COVID-19.
“Tak terasa, kami sudah melaksanakan program Tri Hita Karana Awards selama 25 tahun, jubileum perak pada 2025. Kami tidak pernah berhenti menyerahkan penghargaan, meskipun Bali dilanda COVID-19,” katanya.
Memasuki babak baru setelah perayaan 25 tahun tersebut, Yayasan Tri Hita Karana memperkenalkan slogan “Dari Awards Menuju Movement” sebagai arah pengembangan program.
Melalui perubahan orientasi tersebut, THK Awards diharapkan tidak berhenti pada pemberian penghargaan, tetapi berkembang menjadi gerakan yang mendorong penerapan nilai-nilai keharmonisan dalam kehidupan masyarakat dan aktivitas industri pariwisata.
Gerakan ini diarahkan untuk mewujudkan Bali yang tetap lestari, aman, dan nyaman, baik bagi masyarakat lokal, pendatang, maupun wisatawan.
Dengan demikian, keberhasilan pembangunan pariwisata Bali tidak hanya dilihat dari pertumbuhan industrinya, tetapi juga dari kemampuannya menjaga keharmonisan kehidupan masyarakat, kelestarian budaya, dan keberlanjutan lingkungan hidup.
Penulis : Eni Saeni