- Biaya pembuatan tempah dedoro sekitar Rp800 ribu–Rp1 juta per unit, bisa melayani tiga hingga empat kepala keluarga.
Envira.id, Mataram- Kota Mataram serius menekan beban sampah yang selama ini menumpuk di TPA Kebon Kongok. Melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH), pemerintah kota mulai menggenjot pengolahan sampah organik dari sumbernya dengan membangun puluhan tempah dedoro di lingkungan warga.
Langkah ini ditempuh menyusul tingginya produksi sampah harian yang kini mencapai sekitar 250 ton per hari, sebagian besar masih dibuang ke TPA.
Kepala DLH Kota Mataram, H. Nizar Denny Cahyadi, menargetkan pengurangan signifikan dalam dua tahun ke depan.
“Apabila program tempah dedoro dilakukan secara masif pada 2026, maka pada 2027 volume sampah Kota Mataram bisa turun hingga 60 persen,” ujarnya, seperti dikutip Antara.
Olah dari rumah, bukan lagi angkut semua ke TPA
Tempah dedoro—dalam bahasa Sasak berarti tempat sampah—dirancang sebagai lubang komposter sederhana sedalam 1,5 meter dengan diameter sekitar 90 sentimeter. Warga cukup memasukkan sisa makanan, sayur, daun, dan sampah dapur ke dalamnya. Dalam 8–12 bulan, sampah terurai menjadi kompos.
Metode ini murah dan praktis. Biaya pembuatan hanya sekitar Rp800 ribu–Rp1 juta per unit, tanpa listrik maupun mesin. Satu unit bisa melayani tiga hingga empat kepala keluarga.
Uji coba di Lingkungan Karang Tatah menunjukkan hasil nyata. Sebelum ada tempah dedoro, sampah yang diangkut mencapai 180 kilogram per hari. Setelah dipasang 25 unit, volume yang tersisa hanya sekitar 80 kilogram per hari, mayoritas nonorganik.
Artinya, sekitar 100 kilogram sampah organik per hari berhasil diolah langsung di tingkat warga tanpa perlu dibawa ke TPA.
Tahun ini bangun 50 unit
Untuk memperluas dampak, DLH menyiapkan skema satu kelurahan satu lingkungan percontohan. Dari total 325 lingkungan di 50 kelurahan, tahap awal akan dibangun 50 unit tempah dedoro tahun ini.
Program juga akan menyasar pasar tradisional, sekolah, perumahan, perkantoran, hingga hotel dan restoran.
DLH menilai pendekatan ini penting di tengah keterbatasan lahan TPA dan tingginya biaya pengangkutan. Pola lama kumpul–angkut–buang mulai ditinggalkan, diganti dengan pemilahan dan pengolahan dari sumber.
Dengan pengurangan sampah organik langsung di rumah tangga, beban truk pengangkut berkurang, umur TPA lebih panjang, dan warga mendapat manfaat kompos untuk tanaman.
Bagi Pemkot Mataram, tempah dedoro bukan sekadar lubang kompos, melainkan strategi konkret mengurangi ketergantungan pada TPA sekaligus membangun budaya kelola sampah mandiri di tingkat lingkungan.
Penulis : Eni Saeni