- Pada 2024, pariwisata bahari telah berkembang di lebih dari 2.000 desa pesisir dengan kontribusi ekonomi laut mencapai sekitar 5,9 miliar dolar AS.
Envira .id, Denpasar — Lautan dunia kini berada dalam tekanan berat. Suhu air terus menghangat, tingkat pengasaman meningkat, stok perikanan menurun, sementara polusi—terutama sampah plastik—kian mencemari perairan. Kombinasi krisis iklim dan eksploitasi berlebih itu mengancam ekosistem laut sekaligus mata pencaharian jutaan masyarakat pesisir.
Kondisi tersebut menjadi sorotan utama dalam forum Bali Ocean Days 2026 di Kabupaten Badung, Bali. Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan Didit Herdiawan mengajak negara-negara kepulauan memperkuat aksi kolektif untuk menyelamatkan laut yang selama ini menjadi fondasi peradaban, identitas, sekaligus masa depan mereka.
“Lautan kita memanggil aksi kolektif kita untuk menyelamatkan dan mengelolanya secara bertanggung jawab. Indonesia dan negara kepulauan terbesar di dunia harus menegaskan kembali komitmen terhadap ekonomi biru yang berkelanjutan,” ujar Didit.
Menurutnya, ancaman terhadap laut tidak lagi bersifat jangka panjang, melainkan sudah dirasakan langsung saat ini, mulai dari pemanasan laut, peningkatan pengasaman, runtuhnya perikanan, hingga polusi. Karena itu, Indonesia menyiapkan respons konkret melalui lima program prioritas ekonomi biru yang sejalan dengan tema dialog tahun ini, Navigating Solutions for a Regenerative Ocean Future.
Lima langkah tersebut meliputi perluasan kawasan konservasi laut hingga mencakup 30 persen perairan Indonesia pada 2045, penerapan perikanan tangkap yang bertanggung jawab, pengembangan budidaya berkelanjutan, penguatan pengawasan ekosistem pesisir dan pulau kecil, serta pelibatan nelayan dan masyarakat dalam pengurangan sampah plastik laut.
Kementerian Kelautan dan Perikanan menilai kebijakan itu tidak hanya melindungi ekosistem, tetapi juga mendorong produktivitas ekonomi dan pertumbuhan inklusif bagi masyarakat pesisir. Pemerintah pun mengajak sektor bisnis, komunitas, dan mitra internasional untuk berbagi pengetahuan, teknologi, dan investasi guna mempercepat pemulihan laut.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menambahkan, ekonomi biru menjadi kunci agar pemanfaatan sumber daya laut tetap menghasilkan nilai ekonomi tanpa merusak lingkungan. Pada 2024, pariwisata bahari telah berkembang di lebih dari 2.000 desa pesisir dengan kontribusi ekonomi laut mencapai sekitar 5,9 miliar dolar AS.
Seruan Indonesia mendapat dukungan negara-negara kepulauan lain seperti Fiji, Papua Nugini, dan Seychelles. Mereka mengaku berada di garis depan menghadapi kenaikan muka air laut, kerusakan ekosistem pesisir, serta tekanan terhadap sumber daya laut—menjadikan kolaborasi global sebagai kebutuhan mendesak demi masa depan laut yang lebih tangguh dan regeneratif.
Penulis: Eni Saeni