- Para mentor mengajak siswa belajar sambil bermain, mulai dari mengenali jenis sampah hingga praktik memilah sampah secara langsung.
Envira.id, Badung – Komunitas Bersih Itu Sederhana Aja (BISA) meraih capaian “keren” setelah tiga hari berturut-turut mendatangi sekolah-sekolah di Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.
Sebanyak 650 siswa sekolah dasar (SD) telah teredukasi tentang pengelolaan sampah dari sumbernya dengan metode 3R (reduce, reuse, recycle).
“Terima kasih kepada para mentor muda yang telah tulus berbagi pengetahuan dan pengalaman tentang pengelolaan sampah kepada adik-adik kita di sekolah-sekolah yang telah kita kunjungi,” kata Co-Founder Komunitas BISA, Soendoro Soepringgo.
Pada hari ketiga kegiatan, para mentor Komunitas BISA berkunjung ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Kutuh. Sebelumnya, mereka telah mengedukasi siswa di SDN 3 Kutuh dan SDN 1 Kutuh. Dari tiga sekolah tersebut, total 650 siswa telah mendapatkan edukasi mengenai pengelolaan sampah dari sumbernya.
Seperti di sekolah-sekolah sebelumnya, kehadiran para mentor Komunitas BISA disambut hangat oleh siswa dan para guru SDN 2 Kutuh. Beberapa siswa bahkan menjemput rombongan mentor di gerbang sekolah.
Suasana semakin akrab ketika kegiatan edukasi dimulai. Para mentor mengajak siswa belajar sambil bermain, mulai dari mengenali jenis sampah hingga praktik memilah sampah secara langsung.
Kepala SDN 2 Kutuh, Ni Kadek Dwiyanti Sasmita Anggarini, menuturkan bahwa meskipun sekolah yang dipimpinnya telah meraih sertifikat Sekolah Adiwiyata tingkat provinsi, edukasi dari komunitas tetap penting untuk memperkuat praktik pengelolaan sampah di lingkungan sekolah.
“Sekolah kami memiliki jargon Jelita, jaga lingkungan tertib dan asri. Namun itu baru diperkenalkan,” ujarnya.
Ia berharap kehadiran Komunitas BISA dapat membantu siswa memahami pengelolaan sampah secara lebih konkret dan menjadikannya sebagai kebiasaan sehari-hari.
“Kami juga ingin jaga lingkungan tertib dan asri (Jelita) bukan hanya sekadar jargon, tetapi benar-benar menjadi perilaku di sekolah,” kata Bu Yanti, sapaan akrab Ni Kadek Dwiyanti Sasmita Anggarini.
Sementara itu, para mentor mengaku mendapatkan pengalaman yang menyenangkan sekaligus menantang selama kegiatan berlangsung.
Salah seorang mentor, Ni Putu Yunita, mengatakan bahwa mengajar anak-anak sekolah dasar memberikan pengalaman yang tidak biasa baginya.
“Seru. Challenge banget buat ngajarnya,” ujar mahasiswi semester dua Program Studi Seni Kuliner Politeknik Pariwisata Bali tersebut sambil tersenyum.
Penulis: Eni Saeni